Kisah Nyata : Nikmatnya Derita

Dua tahun lalu saya mengalami kecelakaan saat naik sepeda motor berboncengan dengan istri saya. Ketika itu lengan kiri istri saya patah dan harus dioperasi dipasangi pen. Lebaran hari ke 3 yang lalu, dengan motor yang sama, saya mengalami kecelakaan lagi. Lutut saya remuk, istri saya lebam – lebam di bagian kaki dan tangan.

Emosi dan nafsu mengajakku untuk menyalahkan fihak lain. Seandainya mobil sedan itu tidak belok kiri secara mendadak tentu saya tidak celaka. Seandainya saya tidak pergi sungkem kepada orang tua pada hari itu tentu saya tidak celaka. Dan sendainya yang lain yang semacam itu. Sejenak kemudian saya tersadar, nabi melarang untuk berandai-andai semacam itu. Itu sudah takdir. Ya sudah takdir lutut saya remuk.

Pada hari itu juga saya dibawa ke rumah sakit dan dioperasi oleh dokter spesialis tulang. Tempurung lutut saya dibetulkan. Sendi lutut dan tulang penyangga lutut dipasangi pen. Saya segera dapat menerima kenyataan. Saya harus bersabar menunggu proses penyembuhan. Dokter memberitahukan bahwa proses penyembuhan memerlukan waktu sampai 6 bulan. Rentang waktu yang tak pernah terbayangkan oleh saya untuk merasakan derita dan ketidaknyamanan hidup. Nyaris untuk semua aktivitas fisik saya sekarang ini sangat bergantung bantuan orang lain.

Kerugian yang saya derita akibat kecelakaan itu memang banyak. Diantaranya saya harus banyak mengeluarkan biaya pengobatan, biaya perbaikan motor, biaya renovasi kloset (semula kloset jongkok diubah kloset duduk, karena saya sementara menjadi tidak dapat jongkok), dll. Setelah melalui perenungan yang mendalam dan upaya untuk terus tunduk pada takdir serta aturan Alloh swt, agar selalu bersyukur atas nikmatNYA. Saya merasakan justru dengan terjadi kecelakaan itu, keuntungan jauh lebih banyak dari kerugiannya. Beruntung, yang remuk hanya lulut kaki kiri, beruntung istri saya tidak patah tulang lagi. Beruntung mobil dibelakang saya langsung bisa ngerem. Beruntung ada yang ikhlas memberi pinjaman pembiayaan. Beruntung masih ada kemampuan mengembalikan pinjaman, Beruntung masih banyak yang peduli dan keuntungan-2 lainnya.

Kakak, adik, handai taulan, kerabat, tetangga, teman, mahasiswaku dan kenalan lainnya bergantian menjenguk saya di rumah sakit. Juga setelah saya di rumah. Suatu ketika istri saya terbata-bata bahkan menangis, mata saya juga berkaca-kaca saat mereka datang menjenguk saya. Saya merasakan betapa mereka amat ihlas dan peduli membezook saya. Pada titik inilah saya merasakan sebuah sensasi dan semacam pengalaman spiritual nikmatnya derita. Sebuah peristiwa yang tidak semua orang dapat mencicipi.

Sekarang saya sangat berharap prediksi dokter keliru. Proses penyembuhan tidak sampai 6 bulan. Saya berharap doa kesembuhan yang dipanjatkan oleh mereka akan mempercepat kesembuhan saya. Saya segera kepingin sholat secara wajar. Saya kepingin sujud secara sempurna. Amiin


Oleh : Sugeng Abdullah
Share this article :
 

Poskan Komentar

Silahkan tulis

Bacaan Populer

 
Didukung : Salafiyyah Fans Page | PISS-KTB | Group Alumni
Copyright © 2006. Pesantren As-Salafiyyah - Boleh dicopy asal mencantumkan URL dokumen
Template Modified by info@as-salafiyyah.com | Published by BoloplekCD
Proudly powered by ePUSTAKA ISLAMI