Abdullah Ibnu Umar Radhyallahu Anhuma

Abdullah bin Umar atau Ibnu Umar a/ seorang kaya raya , namun kesenangan duniawi tidak menyilaukannya. Dia mampu menahan diri untuk tidak tenggelam di dalamnya. Sepanjang hidupnya , Ia senantiasa mengerahkan seluruh hartanya di jalan Allah tanpa memikirkan kenikmatan hidup serta kemewahannya. Pakaian yg dikenakannya hanyalah pakaian kasar dan usang. Hal itu ia lakukan agar dirinya tidak terasuki tipu daya dunia , serta menghindari sifat 'riya'. Begitu pula dengan makanannya ,sepanjang hidupnya ia tidak memakan daging , kecuali makan bersama orang lain.

Ibnu umar a/ seorang ahli ibadah ,ahli taubat, serta senantiasa ingat u/ kembali pada tuhannya. Ia senantiasa berwudhu ketika ketika waktu shalat tiba, jika berwudhu , ia membasuh mukanya hingga pada putih2 bola matanya agar dirinya dapat menghadap tuhan dalam keadaan suci sebagaimana yg Allah kehendaki.

Ibnu mas'ud pernah berkomentar :"Orang quraisy yg paling dapat menguasai dirinya dari kemewahan hidup a/ Ibnu Umar".

Abdullah amat menyenangi jihad di jalan Allah , sifat ini telah tertanam dalam hatinya sejak kecil. ketika masih kecil , ibnu Umar sering meminta kepada Rasulullah agar diikutsertakan dirinya dalam setiap peperangan,namun Rasulullah menolaknya, alasannya karena ia masih terlalu kecil.

Ia pernah meminta Rasulullah agar rasullulah mengikutsertakan dirinya dalam perang badar , dengan halus beliau(rasulullah)menolaknya dan mengatakan ia masih terlalu kecil.

Barulah pada perang khandaq , ia diizinkan untuk mengikuti perang . pada waktu itu ia berumur 15 tahun. Ibnu umar juga turut serta bersama ja'far bin abi thalib. Begitu pula dalam perang-perang selanjutnya. seperti perang yarmuk , penaklukan Afrika, mesir , persia , serta mendatangi kota di belahan dunia. Namun , di samping itu semua , Ibnu umar senantiasa tetap berada dalam kewara’annya. Hal itulah yang kemudian menambah keistiqomahan dan kedalaman keimanannya.

Pada suatu malam , ia nermimpi . Mimpi tsb ia ceritakan pada saudarinya, Hafshah, Istri Rasulullah SAW. Mimpi ini , di kemudian hari , menjadi bukti atas kesolehan dan kewara’annya . Abdullah bin umar berkata:

“Aku melihat dalam mimpiku seolah-olah dalam genggaman tanganku terdapat selembar kain sutra. Ke manapun aku ingin pergi ke suatu tempat di surga , kain itu senantiasa membawaku terbang ke tempat yg aku inginkan. Lalu aku melihat ada dua makhluk datang mendekatiku, dan hendak membawaku ke tepi jurang Neraka , tetapi keduanya kepergok oleh malaikat , lalu malaikat itu berkata:’jangan takut’. Lalu kedua makhluk itu melepaskan aku.

Mimpi itu kemudian Hafshah ceritakan kepada Rasulullah SAW. Rasul bersabda:

“sebaik-baik lelaki adalah saudaramu , karena ia adalah lelaki yang shaleh”

Rasul melihat dia berkelakuan baik dan bertaqwa, sehingga tidak aneh jika beliau SAW banyak memberikan pengetahuan kepadanya , berbicara serta seringkali memberikan nasihat kepadanya.

Mengenai hal ini , Abdullah berkata:”pernah pada suatu hari , Rasulullah SAW memegang pundakku dan bersabda : “wahai Abdullah , jadilah engkau di dunia ini seolah-olah engkau sebagai seorang asing atau seorang yang melintasi jalan (‘abiri sabil’) dan jadilah engkau seorang ahli kubur yang beuntung”.

Kemudian Nabi SAW. Berkata kepadaku:”wahai abdullah bin Umar , sebenarnya disana(akhirat) tidak ada yg namanya dinar dan dirham , yang ada hanyalah kebaikan dan keburukan yang merupakan balasan. Dan Qishas dibalas dengan qishas pula. Janganlah engkau membebaskan diri dari anak-anakmu . Karena jika demikian, maka Allah akan membebaskan diri darimu di akherat nanti. Sehingga engkau akan malu di hadapan orang2 yg melihat hal itu. Barang siapa menyingsingkan lengan bajunya dengan niat pamer(riya) , niscaya pada hari kiamat nanti Allah tidak akan melihatnya.”

Sepanjang hidup nya , Abdullah bin umar senantiasa memegang dan mengingat nasehat yg diberikan Rasulullah SAW di atas . sehingga ia menjadi orang yg paling baik dalam bertutur kata dan berfatwa.

Jabir bin abdullah mengilustrasikan sifat-sifat yang dimiliki Abdullah bin Umar sebagai berikut:

“Tidak ada seorang dari kami yang senang pada dunia atau dunia senang pada kami, selain Umar dan anaknya, Abdullah”.

Pernah pada suatu hari, sahabat – sahabatnya mengajak Ibnu Umar untuk sedikit bersenang – senang dan menikmati kehidupan dunia, tetapi ia tetap memelihara gaya hidup yang zuhud hingga akhir hayatnya. Pernah pula, pada suatu waktu salah seorang pendatang dari khurasan tiba dan memberinya baju baru. Ia berkata:

“dari khurasan, aku datang kepadamu dengan membawa baju ini. Dengan baju ini, kedua mataku akan merasa sejuk jika aku melihatmu memakai baju ini serta menanggalkan bajumu yang telah usang itu.”

“jadi kau memberiku baju ini.”tegas Ibnu Umar sambil memegang baju tersebut.”Oh, bukan ini dari katun,”jawab orang itu. Abdullah diam sejenak sambil merenung. Kemudian, tiba-tiba, ia mengangkat baju itu dengan tangan kanan nya sembari berkata:

“Tidak, aku takut pada diriku. Aku takut baju ini akan menjadikanku seorang yang takabur dan menyombongkan diri, padahal Allah sama sekali tidak menyukai orang2 takabbur dan menyombongkan diri.”

Memang benar kiranya keputusan yang diambil Ibnu Umar. Ia telah berniat menjadi pelintas jalan tanpa harus ada seorangpun yang menggangu agamanya.

Pada suatu kesempatan lain, salah seorang sahabatnya memberinya hadiah botol yang penuh dengan air. Ibnu Umar bertanya kepadanya:

“apa ini?”

“Ini adalah Obat mujarab yang kubawa dari Irak,” Jawab temannya.

“Apa gunanya?”tanya Ibnu Umar penasaran.

“Obat ini akan melancarkan pencernaan makanan.”

Ibnu Umar tersenyum mendengar perkataan sahabatnya, lalu ia berkata:

“Melancarkan pencernaan? Padahal aku sama sekali belum pernah merasakan kenyang sejak empat puluh tahun yg lalu.”

Lalu , apakah ada orang yang paling wara’ dan paling berpaling dari kemewahan hidup di dunia ini selain Ibnu Umar?

SIKAP ZUHUD IBNU UMAR

Seluruh hidup Abdullah bin Umar dipersembahkan demi kenikmatan iman. Baginya kenikmatan yang hakiki adalah bertemu dengan Allah SWT di akhirat nanti yg akan dijembatani oleh perbuatan - perbuatan suci serta jiwa yang luhur sewaktu masih hidup nya.

Kendati kehidupannya dipenuhi dengan harta yang melimpah, namun dalam kehidupan sehari – harinya ia hidup sederhana dan penuh dengan kerendahan hati.

Maimun bin Mahran berkata:

“Pada suatu hari, aku masuk ke rumah Ibnu Umar. Aku mencermati dan memeriksa semua perabotan rumah tangga yang ada di dalamnya, seperti kasur, selimut dan tikar. Namu setelah aku hitung, dari semua barang itu tidak sampai 100 dirham.”

Ya, memang benar. Maimun melihat bahwa semua perabot rumah tangga yang ada di rumahnya tersebut tidak ada yang menyamai 100 dirham, padahal, dalam suatu waktu , ia pernah bersedekah hingga 30 ribu dirham.

Tidak hanya itu , Ibnu Umar tidak sekedar zuhud pada kemewahan hidup duniawi saja, namun juga dalam masalah kedudukan, kekuasaan dan martabat. Pernah suatu ketika ia menolak permintaan khalifah Utsman agar menjadi hakim. Ini menjadi salah satu contoh kezuhudannya atas kedudukan dan pangkat.

Pada suatu hari, Ibnu umar dipanggil oleh utsman, khalifah ketiga kaum muslimin. Rencananya ia hendak ditunjuk sebagai hakim , namun hal itu ditolak langsung oleh Ibnu Umar.

Mendengar penolakan tersebut, Utsman bertanya:

“Apakah engkau bermaksud membangkang kepadaku?”

“Oh tidak, tetapi aku tahu bahwa hakim ada tiga macam; pertama, hakim yang memutuskan tanpa pengetahuan, hakim seperti itu akan masuk neraka; kedua, hakim yang memutuskan dengan hawa nafsunya, hakim seperti itu juga akan masuk neraka; ketiga, hakim yang berijtihad dan benar, dan ia mampu melakukan hal itu , tanpa dosa dan upah. Tetapi aku mohon kepadamu atas nama Allah agar memaafkanku, karena aku tidak bisa menerimanya,” Kata Ibnu Umar.

Utsman tidak mungkin menunjuknya sebagai hakim seandainya ia tidak mengetahui tentang keluasan fiqih , kultur agamanya , Ilmu serta kewara’annya.

Az-Zuhri Pernah berkomentar mengenai Ilmu serta ketaqwaan Ibnu Umar:

“Ia tidak berbuat adil berdasarkan pendapatnya. Setelah Rasulullah meninggal, ia masih hidup hingga 60 tahun. Dirinya sama sekali tidak takut terhadap suatu apapun, bahkan pada perintah para sahabatnya.”

Malik berkata:

“Ibnu umar diberikan umur panjang, yakni sekitar 86 tahun. Ia berfatwa demi kemajuan Islam selama 60 tahun, dimana banyak para utusan dari penjuru bumi datang kepadanya.”

Sikap zuhudnya semakin memuncak setelah terbunuhnya Utsman bin Affan, serta fitnah besar(al-fitnah al-kubra) yang berlanjut setelah kematiannya, dimana fitnah ini kemudian memecah belah barisan kaum muslimin.

Suatu hari setelah wafatnya Utsman, Hasan bin Ali berkata kepada Ibnu Umar:

“Engkau adalah tuan umat Islam(sayyidu an-naas) serta anak dari mantan tuan umat Islam(baca:anak dari khalifah Umar bin khatab). Karena itu, bangkitla! Kami akan membai’at engkau bersama kaum muslimin lainnya.”

Akan tetapi ibnu Umar menjawab:

“Demi Allah, aku tidak ingin melihat darah mengalir karena pembai’atan kalian terhadapku.”

Ibnu Umar adalah seorang yang amat mencintai umat Islam dan ia tidak ingin meneteskan setetes darah pun hanya gara – gara pembai’atan dirinya.


Wallahu’alam bishawab.
Share this article :
 

Poskan Komentar

Silahkan tulis

Bacaan Populer

 
Didukung : Salafiyyah Fans Page | PISS-KTB | Group Alumni
Copyright © 2006. Pesantren As-Salafiyyah - Boleh dicopy asal mencantumkan URL dokumen
Template Modified by info@as-salafiyyah.com | Published by BoloplekCD
Proudly powered by ePUSTAKA ISLAMI