KHAZANAH TENTANG DIAM

Oleh. Hasnan Bachtiar
  
DI ZAMAN ketika orang tidak bisa diam, diam itu penting! Koruptor tidak bisa diam, penjajah tidak bisa diam, pemabuk, pencopet, penjilat, politikus, pembohong, pembunuh, perampok, pemerkosa dan seluruh sisi kiri manusia memang tanpa diam. Tulisan ini akan mengajak pada salah satu khazanah tentang diam.
 
Bagaimana hakikat orang yang diam? Tidak berlaku dan berucap? Memang. Tapi secara psikis, apakah berhenti berpikir, enyah atau apatis, bahkan egosentris? Tidak juga. Diam bisa bermakna jalan tengah (moderatisme) yang jauh menyelam, melampaui kompleksitas fakta sosial yang kasat mata.
 
Mari kita mulai dari khazanah religius. Seorang Muslim, tentu akrab dengan surat Maryam. Dalam ayat-ayatnya menceritakan bahwa, tatkala Zakariya mendapat anugerah atas pertapaan, Ia ingin menguji validitas wahyu. Tuhan semesta memberinya petunjuk bahwa Ia “diam” dalam tiga waktu. Entah apa itu, mayoritas mufassir menyebut bahwa itulah perintah dari Tuhan untuk ber-tahannus, menahan diri sejenak dari kecurangan duniawi.
 
Nagarjuna membongkar rahasia ini dalam Mulamadyamakakarika dan menyebut ounyata atau kekosongan. Kekosongan adalah menafsirkan pengasalan yang saling mengkondisikan dari segala sesuatu (pratityasamutpada) sebagai petunjuk, bukan suatu pikiran atau gagasan, tetapi pedoman bagi kehidupan sehari-hari; hal ini sendiri merupakan jalan tengah. Diam, dalam benaknya adalah moderatisme.
 
Diam bukanlah rekonsiliasi dan bukan juga penyimpangan makna atau manipulasi atau berpura-pura atau kemunafikan untuk pelampiasan murka hasrat manusiawi. Suatu pemahaman yang keliru tentang ounyata, dapat menjerumuskan manusia menjadi picik (MK XXIV: 11). Hal ini seperti eksploitasi, penjajahan, teror dan bahkan ketidakpedulian. Orang bijak ini melantunkan bahwa, “Tiada kemusnahan, tiada keabadian.” Inilah spirit agar manusia meneladani jalan tengah yang tidak merusak.
 
Dalam tradisi mistisisme, diam ini bukan semata-mata terjadi begitu saja. Diam adalah pengalaman langsung dalam berlaku adil. Al-Ghazali menyebutnya tazkiyah al-nafs atau penyucian jiwa. Persis seperti pengalaman Arjuna dalam peristiwa Ciptaning Swargaloka. Pencari cinta harus rela bersemedi, menahan segala nafsu birahi hingga mendapat ruh Mintaraga (pemisahan tubuh). Ruh ini adalah kesejatian diam, jalan tengah antara dimensi angkara murka dan malakuti.
 
Bagaimana dalam tradisi Jawa? Wedhatama bertutur, “Nuladha laku utama, tumapring wong tanah Jawi. Kapati Amarsudi, sudaning hawa lan napsu, pinesu tapa brata, tanapi ing siang ratri, amangun karyenak tyasing sasama. (Teladanilah laku utama bagi orang Jawa. Berusaha keras menahan hawa nafsu, bertapa sepenuh hati, baik siang dan malam, membangun jalan tengah untuk sesama).” Begitulah tentang diam, penuh makna.
 
Apakah hal ini juga diperkenankan dalam tradisi Barat pasca modern? Tentu. Merujuk kepada Derrida, cetusan dekonstruksi sesungguhnya jalan tengah. De itu membongkar dan konstruksi adalah bangunan. Jadi, karena obyek studinya adalah bahasa, maka terjadi dialog kuasa lisan-tulisan yang selalu dijabarkan dengan dua alur (écriture doublé), sesungguhnya demi meraup manisnya jalan tengah.
 
Alur pertama membongkar bahwa kuasa superior lisan hendaknya tidak menjajah yang lain (tulisan) dan merendahkannya. Sedang alur kedua adalah jalan alternatif, yang menghendaki netralitas kekuasaan, tanpa (tulisan) menjadi penjajah baru. Inilah diam dalam sisi Filsuf Perancis ini, bermakna tidak saling menjajah.
 
Di Jerman, Jurgen Habermas, mencoba menekuni jalan tengah yang sama dalam bidang komunikasi. Bagi pemikir Mazhab Frankfurt ini, diam adalah berbincang dengan baik dan bukan salah paham. Fyodor Doestovsky di Rusia dalam bidang kemanusiaan. Abdullah Ahmed An-Na’im di dunia hukum Islam dalam bidang syariat Islam. Fethullah Gulen di Turki dalam bidang pemikiran Islam. Sangat banyak para tokoh yang berpikir tentang jalan tengah ini.
 
Peradaban Timur dan Barat bersepakat dalam diam ini. Tidak bisa dipungkiri, nilai kearifan diam telah membelah benua dan samudera di seluruh pelosok dunia. Dengan kata lain, dunia yang diam telah mendiamkan dimensi kerakusan, liar, berantakan dan menetralisir segala kecurangan.
 
Gagasan ini sederhana. Karena carut marut persoalan Indonesia yang mbulet (tidak jelas ujung pangkalnya), hendaknya manusia – khususnya penguasa – mulai berpikir tentang diam. Logikanya, para penguasa adalah yang paling berpengaruh dalam kebajikan umat. Kalau penguasa zalim, maka inilah Indonesia yang sengsara.
 
Kesimpulannya, diam adalah tidak mencurangi nurani. Kalau “dunia” saja sudah bersepakat untuk diam, kenapa kita tidak? Diri manusia tidak akan hina seandainya mengikuti jalan kebajikan. []
 
Penulis adalah Aktivis Katalis di Sekolah Filsafat, Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) UMM.
Share this article :
 

Poskan Komentar

Silahkan tulis

Bacaan Populer

 
Didukung : Salafiyyah Fans Page | PISS-KTB | Group Alumni
Copyright © 2006. Pesantren As-Salafiyyah - Boleh dicopy asal mencantumkan URL dokumen
Template Modified by info@as-salafiyyah.com | Published by BoloplekCD
Proudly powered by ePUSTAKA ISLAMI