Takwil dan ''Tafwid makna' adalah konsep Ahlus-Sunnah

1. BENARKAH KONSEP TAKWIL YANG MANA DI LAKUKAN SEBAGIAN SALAF DAN JUGA OLEH MAYORITAS KHALAF ITU SESAT DENGAN DALIL QS AL IMRAN: 7 ?!? TERUS APA MAKSUD QS AL IMRAN :7 TERSEBUT ???

RESP0N:
Surat Ali ImrAN :7
:Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu.
Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat.

Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, WALA YA'LAMU TA'WILAHU ILLALLAH: padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah,WA ROSIKHIN FIL ILMI YAQULUNA AMANNA BIH KULUN MIN INDI ROBBINA: Dan orang- orang yang mendalam ilmunya berkata: Kami beriman kepada ayat-ayat
yang mutasyaabihaat,semuanya itu dari sisi Tuhan kami. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang orang yang berakal.(QS. Ali Imran (3) : 7)

PERBEDAAN PENDAPAT DALAM HAL TAKWIL adalah KARENA BERBEDA pada cara memberhentikan bacaan (WAQAF) DALAM AYAT TERSEBUT. Sebagian ulama menyatakan
bahwa terdapat woqf tam / wajib berhenti setelah kalimat “wa maa ya’lamu ta’wiilahu illallaahu” sehingga maknanya menjadi : dan tidaklah dapat memahami ta’wilnya melainkan Allah', kemudian huruf wawu setelahnya adalah wawu isti’naf (wawu untuk memulai kalimat baru) ar raasikhuuna fil ilmi menjaDi mubtada’ dan jumlah setelahnya menempati posisi khobarul mubtada’. Berdasarkan pendapat pertama ini, makna ayat menjadi : ''dan tidaklah mengetahui ta’wilnya kecuali Allah (WAQOF), Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: kami beriman dengannya, semua dari sisi Tuhan kami. Ini adalah pendapat SEBAGIAN ulama, baik salaf maupun kholaf.

Sementara, sebagian ulama menyatakan bahwa huruf wawu setelah Lafdzul Jalaalah (Allah) adalah wawu athof (kata sambung), sedangkan jumlah (kalimat) yaquuluuna.. dst menempat posisi haal bagi ar raasikhuuna fil ilmi. Dengan begitu,maknya ayat menjadi :''dan tidaklah mengetahui ta’wilnya kecuali Allah (TIDAK WAQAF) dan orang-orang yang memiliki kedalaman ilmu(WAQAF), sedang mereka (orang-orang yang memiliki kedalaman ilmu) berkata: kami beriman dengannya (Al Qur’an) semua dari sisi Tuhan Kami…(JUMLAH ISTI-NAF HAL ).
 
Pendapat ini diikuti oleh ulama salaf antara lain Mujahid dan Adh Dhohak, DAN dari ulama kholaf antara lain An Nawawi dan Ibnu Hajib. Mujahid berkata: ar roosikhuuna fil ilmi, mereka mengetahui ta’wilnya dan berkata: kami beriman dengannya, Adh Dhohak berkata: orang-orang yang memiliki kedalaman ilmu mengetahui ta’wilnya,seandainya mereka tidak tahu, niscaya mereka akan tidak tahu mana yang menghapus (NASIKH) dan mana yang dihapus/MANSUKH, mana yang halal dan mana yang haram,serta mana yang mUhkam dan mana yang mutasyabih; Al Ghozali berkata (jika mutasyabih itu adalah lafadz yang mujmal maka) disambung lebih benar, karena Allah Ta’aala tidak mungkin menyeru Orang Arab dengan sesuatu yang tidak ada jalan bagi seorang pun dari makhluqNya untuk memahaminya; An Nawawi berkata, Itu lebih shohih, karena jauh kemungkinan Allah menyeru hambaNya dengan sesuatu yang tidak ada jalan bagi seorang pun dari makhluqNya untuk memahaminya; Ibnu Hajib berkata: PENDAPAT Itulah yang dzohir/ tampak jelas.[AL ITQAN FI ULUMIL QURAN KARYA IMAM ALHAFIDZ JALALUDDIN AS SUYUTI )

JADI LEGALITAS TAKWIL DIBENARKAN BAGI RASIKHINA FIL ILMI..!

2. APAKAH YANG DIMAKSUD DGN TAFWIDL SALAF?? APAKAH MEREKA MENTERJEMAH ATAU MEMAKNAI DGN DOHIR AYAT2MUTASYABEHAT ??

RESPON:
TELAH BERKATA IMAM DZAHABI:
ﻻ ﻳﺮﺩ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺒﺎﺏ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻔﺎﺕ ﺍﻻ ﺍﻵﻗﺮﺍﺭ ﻭﺍﻻﻣﺮﺍﺭ ﻭﺗﻔﻮﻳﺾ ﻣﻌﻨﺎﻩ ﺍﻟﻲ ﻗﺎﺋﻠﻪ ﺍﻟﺼﺎﺩﻕ ﺍﻟﻤﻌﺼﻮﻡ
: TIDAKLAH DATANG DI DALAM BAB INI TENTANG SIFAT KECUALI IQROR: MENGUCAPKAN DANIMROR: MEMBERJALANKAN DISERTAI 'TAFWID MAKNA': MENYERAHKAN MAKNANYA KEPADA YG BERKATA DENGAN BENAR DAN TERJAGA (RASUL SAW) (SIYAR ALAM NUBALA 8/ 105 )

JADI YANG DIMAKSUD ADALAH 'TAFWID MAKNA' BUKAN 'TAFWID KAEFIYAH' !

ULAMA SALAF TIDAK MENGAMBIL MAKNA DOHIR LAFAD SEBAGAIMANA DI KATAKAN OLEH SUFYAN BIN UYAENAH: KULU MA WASOFALLAHU MIN NAFSIHI FI KITABIH FATAFSIRUHU TILAWATUHU WA SUKUTU ALAEH: APAPUN YG ALLAH SIFATI UTK DZATNYA DALAM KTBNYA MAKA TAFSIRNYA ADALAH MEMBACANYA DAN DIAM TERHADAPNYA (AD DURR AL MANTSUR 3/92, FATHUL BARI 13 / 540)
JUGA UCAPAN SERUPA DI KATAKAN OLEH WAKI' DLL (SIYAR ALAM NUBALA 8/162)

JUGA CEK DGN CERMAT Riwayat AL AUZA'I dari Az-Zuhriyy dan Makĥuul mereka BERkata"
ﺍﻣﻀﻮﺍ ﺍﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺟﺎﺀﺕ",
yang arti: (ﺍﻣﻀﻮﺍ) lulusKAN pada (ﺍﻷﺣﺎﺩﻳﺚ) hadits2 (ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺟﺎﺀﺕ) SEBAGAI MANA datangNYA' (ALBAIHAQI ASMA WAS SIFAT 453) DALAM RIWAYAT ITU "Tidak disebutkan"BERLAKUKAN DGN makna DOHIRNYA".

Subĥaana Allah, jika makna DOHIR YANG dimaksudkan, maka mengapa salaf membuat CARA itu ? Jika makna DOHIR, jelas dimaksudkan, maka mereka tidak akan pernah menyebutkan cara-cara YANG berurusan dengan teks MUTASABEHAT DALAM Kitab Suci !!

NAH BGMANA DGN WAHABI?? IKUT SALAF TDK, DAN MEMV0NIS SESAT JUGA KEPADA KHALAF YANG MENTAKWIL DENGAN MENYEBUTNYA JAHMI !
Share this article :
 

+ komentar + 1 komentar

Kamis, Juli 21, 2011 10:13:00 PM

keren bosss....!!

Poskan Komentar

Silahkan tulis

Bacaan Populer

 
Didukung : Salafiyyah Fans Page | PISS-KTB | Group Alumni
Copyright © 2006. Pesantren As-Salafiyyah - Boleh dicopy asal mencantumkan URL dokumen
Template Modified by info@as-salafiyyah.com | Published by BoloplekCD
Proudly powered by ePUSTAKA ISLAMI