Peringatan 3, 7, 20, 40, 100 Hari Orang Yang Meninggal

--
Tradisi yang berkembang dikalangan NU, jika ada orang yang meningal, maka akan diadakan acara tahlilan, do’a, dzikir fida dan lain sebagainya. Untuk mendo’akan orang yang meningal dan biasanya dibarengi dengan jamuan makanan sebagai sodaqoh untuk simayit.
Dalil yang digunakan hujjah dalam masalah ini yaitu sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Hawi li-Al-Fatawi li as-syuyuti, Juz II, hlm 183

قَالَ طَاوُسِ: اِنَّ اْلمَوْتَى يُفْتَنُوْنَ فِىْ قُبُوْرِهِمْ سَْعًا فَكَانُوْا يُسْتَحَبُّوْنَ أَنْ يُطْعِمُوْا عَنْهُمْ تِلْكَ اْلاَيَّامِ-اِلَى اَنْ قَالَ-عَنْ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرِ قَالَ: يُفْتَنُ رَجُلَانِ مُؤْمِنٍ وَمُنَافِقٍ فَأَمَّا اْلمُؤْمِنُ فَيُفْتَنُ سَبْعًا وَاَمَّا الْمُنَافِقُ يُفْتَنُ اَرْبَعِيْنَ صَبَاحًا.

Imam Thawus berkata : seorang yang mati akan beroleh ujian dari Alloh dalam kuburnya selama tujuh hari. Untuk itu, sebaiknya mereka (yang masih hidup) mengadakan sebuah jamuan makan (sedekah) untuknya selama hari-hari tersebut. Sampai kata-kata: dari sahabat Ubaid Ibn Umair, dia berkata: seorang mu’min dan seorang munafiq sama-sama akan mengalami ujian dalam kubur. Bagi seorang mu’min akan beroleh ujian selama 7 hari, sedang seorang munafik selama 40 hari diwaktu pagi.

Dalil diatas adalah sebuah atsar yang menurut Imam As-Syuyuty derajatnya sama dengan hadis marfu’ Mursal maka dapat dijadikan hujjah makna penjelasannya:

اِنَّ أَثَرَ طَاوُسَ حُكْمُهُ حُكْمُ اْلحَدِيْثِ الْمَرْفُوْعِ اْلمُرْسَلِ وَاِسْنَادُهُ اِلَى التَّابِعِى صَحِيْحٌ كَانَ حُجَّةً عِنْدَ اْلاَئِمَّةِ الثَّلَاثَةِ اَبِي حَنِيْفَةَ وَمَالِكٍ وَاَحْمَدَ مُطْلَقًا مِنْ غَيْرِ شَرْطٍ وَاَمَّا عِنْدَ الشَّافِعِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فَاِنَّهُ يَحْتَجُ بِاْلمُرْسَلِ اِذَا اعْتَضَدَ بِاَحَدِ أُمُوْرٍ مُقَرَّرَةٍ فِى مَحَلِهَا فِيْهَا مَجِيْئِ آخَرَ اَوْ صَحَابِيِّ يُوَافِقُهُ وَالْاِعْتِضَادِ هَهُنَا مَوْجُوْدٌ فَاِنَّهُ رُوِيَ مِثْلُهُ عَنْ مُجَاهْدِ وَعَْ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرِ وَهُمَا تَابِعِيَانِ اِنْ لَمْ يَكُنْ عُبَيْدٌ صَحَابِيًا.

Jka sudah jadi keputusan, atsar (amal sahabat Thawus) diatas hukumnya sama dengan hadist Marfu’ Mursal dan sanadnya sampai pada tabi’in itu shahih dan telah dijadikan hujjah yang mutlak(tanpa syarat) bagi tiga Imam (Maliki, Hanafi, Hambali). Untuk Imam as-Syafi’i ia mau berhujjah dengan hadis mursal jika dibantu atau dilengkapi dengan salah satu ketetapan yang terkait dengannya, seperti adanya hadis yang lain atau kesepakatan Shahabat. Dan, kelengkapan yang dikehendaki Imam as-Syafi’i itu ada, yaitu hadis serupa riwayat dari Mujahid dan dari ubaid bin Umair yang keduanya dari golongan tabi’in, meski mereka berdua bukan sahabat.

Lebih jauh, Imam al-Syuyuti menilai hal tersebut merupakan perbuatan sunah yang telah dilakukan secara turun temurun sejak masa sahabat.
Kesunnahan memberikan sedekah makanan selama tujuh hari merupakan perbuatan yang tetap berlaku hingga sekarang (zaman imam as-Syuyuti, abad x Hijriyah) di mekah dan Madinah. Yang jelas, kebiasaan itu tidak pernah ditinggalkan sejak masa sahabat Nabi Muhammad SAW sampai sekarang ini, dan tradisi itu diambil dari Ulama Salaf sejak generasi pertama (masa Sahabat Nabi Muhammad SAW).”

Selanjutnya dalam Hujjah Ahlussunnh Wal jama’ah, juz 1 hlm. 37 dikatakan:

قَوْلُهُ-كَانُوْا يُسْتَحَبُّوْنَ-مِنْ بَابِ قَوْلِ التَّابِعِي كَانُوْا يَفْعَلُوْنَ-وَفِيْهِ قَوْلَانِ لِاَهْلِ الْحَدِيْثِ وَاْلاُصُوْلِ أَحَدُهُمَا اَنَّهُ اَيْضًا مِنْ بَابِ اْلمَرْفُوْعِ وَأَنَّ مَعْنَاهُ: كَانَ النَّاسُ يَفْعَلُوْنَ فِى عَهْدِ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَعْلَمُ بِهِ وَيُقِرُّ عَلَيْهِ.

(Kata-kata Imam thawus), pada bab tentang kata-kata Tabi’in, mereka melaksanakannya. Dalam hal ini ada dua pendapat: pendapat ahli Hadis dan Ahli Ushul yang salah satunya termasuk hadis Marfu’ maksudnya orang-orang dizaman Nabi melaksanakan hal itu, Nabi sendiri tahu dan menyetujuinya.

Dalam kitab Nihayah al-Zain, Juz I, halaman 281 juga disebutkan:

وَالتَّصَدُّقُ عَنِ اْلمَيِّتِ بِوَجْهٍ شَرْعِيٍّ مَطْلُوْبٌ وَلَا يُتَقَيَّدُ بِكَوْنِهِ فِيْ سَبْعَةِ اَيَّامٍ اَوْ اَكْثَرَ اَوْ اَقَلَّ وَتَقْيِيْدُهُ بِبَعْضِ اْلاَيَّامِ مِنَ اْلعَوَائِدِ فَقَطْ كَمَا اَفْتَى بِذَلِكَ السَّيِّدِ اَحْمَدء دَحْلَانِ وَقَدْ جَرَتْ عَادَةُ النَّاسِ بِالتَّصَدُّقِ عَنِ اْلمَيِّتِ فِي ثَالِثٍ مِنْ مَوْتِهِ وَفِي سَابِعٍ وَفِيْ تَمَامِ اْلعِشْرِيْنَ وَفِي اْلاَرْبَعِيْنَ وَفِي الِمأَةِ وَبِذَلِكَ يُفْعَلُ كُلَّ سَنَةٍ حَوْلًا فِي اْلمَوْتِ كَمَا اَفَادَهُ شَيْخَنَا يُوْسُفُ السُنْبُلَاوِيْنِيْ.

Di anjurkan oleh syara’ shodaqoh bagi mayit,dan shodaqoh itu tidak di tentukan pada hari ke tujuh sebelumnya maupun sesudahnya.sesungguhnya pelaksanaan shodaqoh pada hari-hari tertentu itu cuma sebagai kebiasaan (adat) saja,sebagaimana fatwa Sayid Akhmad Dahlan yang mengatakan ”Sungguh telah berlaku dimasyarakat adanya kebiasaan bersedekah untuk mayit pada hari ketiga dari kematian, hari ketujuh, dua puluh, dan ketika genap empat puluh hari serta seratus hari. Setelah itu dilakukan setiap tahun pada hari kematiannya. Sebagaimana disampaikan oleh Syaikh Yusuf Al-Sumbulawini.

Adapun istilah 7 “tujuh hari” dalam acara tahlil bagi orang yang sudah meninggal, hal ini sesuai dengan amal yang dicontohkan sahabat Nabi SAW. Imam Ahmad bin Hanbal RA berkata dalam kitab Al-Zuhd, sebagaimana yang dikutip oleh Imam Suyuthi dalam kitab Al-Hawi li Al-Fatawi:

حَدَّثَنَا هَاشِمُ بْنُ اْلقَاسِمِ قَالَ حَدَّثَنَا اْلأَشْجَعِيُّ عَنْ سُفْيَانَ قَالَ: قَالَ طَاوُسُ: إِنَّ اْلمَوْتَ يُفْتَنُوْنَ فِي قُبُوْرِهِمْ سَبْعًا فَكَانُوْا يَسْتَحِبُّوْنَ أَنْ يُطْعِمُوْا عَنْهُمْ تِلْكَ اْلأَيَّامِ (الحاوي للفتاوي,ج:۲,ص:۱۷۸)

“Hasyim bin Al-Qasim meriwayatkan kepada kami, ia berkata, “Al-Asyja’i meriwayatkan kepada kami dari Sufyan, ia berkata, “Imam Thawus berkata, “Orang yang meninggal dunia diuji selama tujuh hari di dalam kubur mereka, maka kemudian para kalangan salaf mensunnahkan bersedekah makanan untuk orang yang meninggal dunia selama tujuh hari itu” (Al-Hawi li Al-Fatawi, juz II, hal 178)

Imam Al-Suyuthi berkata:

أَنَّ سُنَّةَ اْلإِطْعَامِ سَبْعَةَ أَيَّامٍ بَلَغَنِي أَنَّهَا مُسْتَمِرَّةٌ إِلَى اءلآنَ بِمَكَّةَ وَاْلمَدِيْنَةَ فَالظَّاهِرُ أَنَّهَا
لمَ ْتَتْرُكْ مِنْ عَهْدِ الصَّحَابَةِ إِلَى اْلآنَ وَأَنَّهُمْ أَخَذُوْهَا خَلَفًا عَنْ سَلَفٍ إِلَى الصَّدْرِ اْلأَوَّلِ (الحاوي للفتاوي,ج:۲,ص:۱۹۴)

“Kebiasaan memberikan sedekah makanan selama tujuh hari merupakan kebiasaan yang tetap berlaku hingga sekarang (zaman imam Suyuthi, sekitar abad IX Hijriah) di Makkah dan Madinah. Yang jelas, kebiasaan itu tidak pernah ditinggalkan sejak masa sahabat Nabi SAW sampai sekarang ini, dan tradisi itu diambil dari ulama salaf sejak generasi pertama (masa sahabat SAW)” (Al-Hawi li Al-Fatawi, juz II, hal 194)

Dari beberapa dalil diatas dapat disimpulkan bahwa kebiasaan masyarakat NU tentang penentuan hari dalam peringatan kematian itu dapat dibenarkan secara syara’.



Share this article :
 

+ komentar + 68 komentar

Kamis, Februari 07, 2013 12:07:00 PM

makasih, sangat membantu boz,,,,....

Jumat, Maret 01, 2013 6:32:00 PM

hadisnya lemah brow

Jumat, Maret 01, 2013 6:33:00 PM

hadisnya lemah brow

Selasa, April 23, 2013 7:17:00 PM

@Hilman: Mungkinkah anda ahli hadist atau hanya sekedar fanatik dengan satu golongan dan tidak suka dengan golongan lain??

Sabtu, Mei 04, 2013 4:23:00 PM

Menjalankan Agama haruslah sesuai syariat.....tidak harus sejalan dengan tradisi msy di suatu daerah....Trus katanya Orang mati itu hanya membawa tiga amalan....dan bukanlah nasi jamuan dan nasi tumpeng.....

Sabtu, Mei 04, 2013 4:27:00 PM

Menjalankan Agama haruslah sesuai syariat.....tidak harus sejalan dengan tradisi msy di suatu daerah....Trus katanya Orang mati itu hanya membawa tiga amalan....dan bukanlah nasi jamuan dan nasi tumpeng.....

Selasa, Mei 07, 2013 6:18:00 PM

Sip boz.surga brtingkat,smoga anda di tmpatkan surga pling mewah,g sperti org yg stelah mati kya hewan.

Minggu, Mei 12, 2013 11:53:00 PM

Biasanya tahlilan dilakukan selama 7 hari dari meninggalnya seseorang, kemudian hari ke 40, 100, dan pada hari ke 1000 nya. Nah yang jadi pertanyaan...di manakah adanya riwayat Rasulullah SAW pernah melaksanakan dan menganjurkan kegiatan ini...?? mohon penjelasan yang terperinci...sesuai Al'Quran dan Hadits.

Minggu, Mei 12, 2013 11:58:00 PM

Sekali lagi, mohon di tunjukkan sunnah Rarulullah SAW yg mana dan kapan beliau pernah melaksanakan tahilan dan peringatan hari2nya yg ke 3,7....dstnya....simpel saja kok....

Rabu, Mei 22, 2013 11:08:00 AM

itu namanya taqlid tanpa melihat dalil yg pasti dari Quran ataupun hadist mbah padahal kita diperintah mengikuti Nabi “Dan ikutilah Dia ( muhammad ) supaya kamu mendapat petunjuk".( QS Al-A'raf : 158 )......sedangkan Nabi bersabda "Aku berwasiat kepada kamu sekalian supaya bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat sekalipun diperintah oleh seorang hamba Habsyi. Sesungguhnya siapa saja yang hidup (selepas ini) di antara kamu sekalian selepasku akan melihat perselisihan yang banyak, maka kembalilah (berpeganglah) kamu kepada sunnahku dan sunnah para Khulafa ar-Rasyidin selepas peninggalanku, berpegang teguhlah dengannya, maka gigitlah dengan gigi geraham, kemudian berhati-hatilah dengan hal yang baru (dicipta dalam agama) sesungguhnya setiap ciptaan yang baru itu adalah bid'ah dan setiap yang bid'ah itu sesat". (Hadis Riwayat Ahmad (1653). At-Tirmizi (2600). Musnad Abu Daud (3991). As-Sunnan Ibn Majah (42))

Jumat, Mei 24, 2013 12:00:00 AM

Islam rahmatan lil aalamin, pasti akan mampu memayungi kita semua dunia dan akhirat. Amien

Jumat, Mei 24, 2013 12:03:00 AM

Islam rahmatan lil aalamin, pasti akan mampu memayungi kita semua dunia dan akhirat. Amien

Senin, Mei 27, 2013 4:53:00 AM

Ass wr wb..
Mau Nanya bagai mana dgn keluarga si mayit mamaksakan diri utk adakan selamatan sedang ia sendiri nggak mampu,dan sampai berhutang bukan kah itu dosa..?kebiasaan orang NU yg kurang masuk akal.
Kalau menurut saya Sih ,Boleh boleh saja asalkan jangan membebani si Mayit seperti harus menyediakn makanan yg banyak buat orng yang baca yasinan,...

Senin, Mei 27, 2013 5:02:00 AM

MAU TANYA SEBELUM RASULLAH WAFAT PASTI ADA SAHABAT RASULLA YG MENINGGAL LEBI DULU, ADAKAH SEBUAH HADIS YG SOHIH YG MENERANGKAN BAHWA RASULLULAH MENGADAKAN 3 HARIAN ,7 HARIAN BUAT SIMAYIT..?

Selasa, Juni 04, 2013 5:45:00 PM

Mereka itu cari amal secara berhayal, padahal masih banyak cara beramal yang di ajarkan islam, misalnya puasa sunah, sholat sepertiga malam, dan menyantuni anak yatim,
Coba kita perhatikan dia bilang sedekah, tapi bayar zakat mal aja kagak pernah, jadi telah nyata kalau mereka buta dengan yang wajib

Jumat, Juni 14, 2013 10:35:00 PM

Jgn menyalakan dan menilai amalan org lain tapi kita masing2 harus bisa mengamalkan ilmu yg kita miliki untuk mendekatkan diri pada Allah

Minggu, Juni 23, 2013 7:29:00 PM

kopi luwak, @ orang kita biasanya yang dipentingkan bukan yang wajib tapi yang riya' anas, yang wajib lupa..., padahal Islam lebih menyintai amalan yang sedikit tapi benar tanpa riya' annas dari pada banyak tetapi bid'ah

Minggu, Juni 23, 2013 7:30:00 PM

kopi luwak, @ orang kita biasanya yang dipentingkan bukan yang wajib tapi yang riya' anas, yang wajib lupa..., padahal Islam lebih menyintai amalan yang sedikit tapi benar tanpa riya' annas dari pada banyak tetapi bid'ah

Senin, Juni 24, 2013 7:56:00 PM

Alhamdulillah

walaupun amalan bidah aku lebih senang melakukan dari pada ilmu yang membuat aku sombong dan syirik serta mendustakan kewalian ulama,di akhir jaman umat seperti ini lebih banyak yang meras lebih alim dari pada salafuhssoleh dan merasa mereka telah mengikuti sunnah Rasul dan merasa paling benar, dan mereka inilah yang suka mengharamkan(membidahkan) dan memahami alquran sampai kerongkongan

jalankan terus amalan bidah yang baik ini

Rabu, Juni 26, 2013 11:27:00 AM

@ Rudi Syam:
bagus mas jika orang yg saling mengingatkan dituduh sombong, dituduh dusta...
padahal yg keimanan hanya sampai kerongkongan itu dalil utk orang khawarij...
"semoga Alloh menunjukkan jalan yg lurus utk semua"

Senin, Juli 08, 2013 6:42:00 AM

Kalau nabi muhammad manusia terbaik di permukaan bumi , paling shaleh , manusia paling bertaqwa tidak berhak mengarang soal syariad.
Berhak kah anda mengarang soal syariad...???

Reply to isaprikitiew57@yahoo.com

Senin, Juli 15, 2013 12:52:00 AM

gitu aja kok repooot.........
lha wong tinggal ikuti ulama' yg dulu yg udah terbukti kesolehany.... eh malah pada mbuat argumen utk mengklaim dolalah org yg mengadakan 7 harinan....
mosok gak percaya.........????
nek jaman skarang kok ada ada aja...

Selasa, Agustus 06, 2013 4:49:00 AM

Yaelah repot amat tinggal ikuti masalah dosa atau nggaknya itu urusan yg mewarnai cabe.....

Selasa, Agustus 06, 2013 4:50:00 AM

Yaelah repot amat tinggal ikuti masalah dosa atau nggaknya itu urusan yg mewarnai cabe.....

Selasa, Agustus 20, 2013 5:17:00 AM

pancen repot sama orang2 yang g'percaya sama Ulama',,, wong jelas Ulama' pewaris para Nabi kok di kafir2kan... Na'udzubillahi mindzalik ....

Rabu, Agustus 21, 2013 9:22:00 PM

Nabi memiliki beberapa anak, yang anak laki2 semua

meninggal sewaktu masih kecil. Anak-anak perempuan

beliau ada 4 termasuk Fatimah, hidup sampai

dewasa.
Ketika Nabi masih hidup, putra-putri beliau yg

meninggal tidak satupun di TAHLIL i, kl di do'akan

sudah pasti, karena mendo'akan orang tua,

mendo'akan anak, mendo'akan sesama muslim amalan

yg sangat mulia.

Ketika NABI wafat, tdk satu sahabatpun yg TAHLILAN

untuk NABI,
padahal ABU BAKAR adalah mertua NABI,
UMAR bin KHOTOB mertua NABI,
UTSMAN bin AFFAN menantu NABI 2 kali malahan,
ALI bin ABI THOLIB menantu NABI.
Apakah para sahabat BODOH....,
Apakah para sahabat menganggap NABI hewan....

(menurut kalimat sdr sebelah)
Apakah Utsman menantu yg durhaka.., mertua

meninggal gk di TAHLIL kan...
Apakah Ali bin Abi Tholib durhaka.., mertua

meninggal gk di TAHLIL kan....
Apakah mereka LUPA ada amalan yg sangat baik,

yaitu TAHLIL an koq NABI wafat tdk di TAHLIL i..

Saudaraku semua..., sesama MUSLIM...
saya dulu suka TAHLIL an, tetapi sekarang tdk

pernah sy lakukan. Tetapi sy tdk pernah mengatakan

mereka yg tahlilan berati begini.. begitu dll.

Para tetangga awalnya kaget, beberapa dr mereka

berkata:" sak niki koq mboten nate ngrawuhi

TAHLILAN Gus.."
sy jawab dengan baik:"Kanjeng Nabi soho putro

putrinipun sedo nggih mboten di TAHLILI, tapi di

dongak ne, pas bar sholat, pas nganggur leyeh2,

lan sakben wedal sak saget e...? Jenengan Tahlilan

monggo..., sing penting ikhlas.., pun ngarep2

daharan e..."
mereka menjawab: "nggih Gus...".

sy pernah bincang-bincang dg kyai di kampung saya,

sy tanya, apa sebenarnya hukum TAHLIL an..?
Dia jawab Sunnah.., tdk wajib.
sy tanya lagi, apakah sdh pernah disampaikan

kepada msyarakat, bahwa TAHLILAN sunnah, tdk

wajib...??
dia jawab gk berani menyampaikan..., takut timbul

masalah...
setelah bincang2 lama, sy katakan.., Jenengan

tetap TAHLIl an silahkan, tp cobak saja

disampaikan hukum asli TAHLIL an..., sehingga

nanti kita di akhirat tdk dianggap menyembunyikan

ILMU, karena takut kehilangan anggota.., wibawa

dll.

Untuk para Kyai..., sy yg miskin ilmu ini,

berharap besar pada Jenengan semua...., TAHLIL an

silahkan kl menurut Jenengan itu baik, tp sholat

santri harus dinomor satukan..
sy sering kunjung2 ke MASJID yg ada pondoknya.

tentu sebagai musafir saja, rata2 sholat jama'ah

nya menyedihkan.
shaf nya gk rapat, antar jama'ah berjauhan, dan

Imam rata2 gk peduli.
selama sy kunjung2 ke Masjid2 yg ada pondoknya,

Imam datang langsung Takbir, gk peduli tentang

shaf...

Untuk saudara2 salafi..., jangan terlalu keras

dalam berpendapat...
dari kenyataan yg sy liat, saudara2 salfi memang

lebih konsisten.., terutama dalam sholat.., wabil

khusus sholat jama'ah...
tapi bukan berati kita meremehkan yg lain.., kita

do'akan saja yg baik...
siapa tau Alloh SWT memahamkan sudara2 kita kepada

sunnah shahihah dengan lantaran Do'a kita....

demikian uneg2 saya, mohon maaf kl ada yg tdk

berkenan...
semoga Alloh membawa Ummat Islam ini kembali ke

jaman kejayaan Islam di jaman Nabi..., jaman

Sahabat.., Tabi'in dan Tabi'ut Tabi'in
Amin ya Robbal Alamin

Selasa, September 17, 2013 11:40:00 PM

Rasulullah S.A.W bersabda :
Bila Seseorang tlah meninggal terputus untuknya pahala segla amal, kecuali dari tiga yang kekal ; sadaqoh, anak yang soleh, ilmu yang bermanfaat.
(hadist riwayat Imam Bukhari dan Muslim)

menurut sya thlilan itu adat e wong jowo, kalo dilakukan boleh, jika tidak jga gpp.
yg trpenting doa anak2 ny yang soleh yg masih bsa qt kirim untuk beliau di alam kubur.

Jumat, Oktober 04, 2013 5:41:00 PM

setuju. teruskan ajaran ulama' salaf.

Kamis, November 14, 2013 4:38:00 PM

Kok banyak yang tanya amalan tahlil mana dalilnya?mana hujjahnya?mana haditsnya?Rasulullah mengamalkan gak?memberi contoh gak?..sekarang saya balik tanya apakah Rasulullah pernah melarang, mencegah?kalo ada mana dalilnya, mana atsarnya?

Kamis, November 28, 2013 11:10:00 AM

bacaan subhannalloh di sebut tasbih
alhamdullah di sebut tahmid
allohu akbar di sebut takbir
lailaahaillalloh di sebut tahlil
ini semua adalah pelajaran kelas TK Nol besar di kampungku,,,, jelas-jelas ajaran nabi MUHAMMAD SAW,,

Selasa, Desember 17, 2013 8:13:00 AM

kalau orang hindu mengadakan 3 ,7,40, 100,1000 harinan, dan mendak. masak orang islam juga melaksanakan, toh sepertinya tidak ada hadisnya mengenei peringatan ini, lebih baik kita doakan saja setelah sholat kan lebih afdol.Pembeda antara orang islam dan kan kafir kan sholatnya.kalau hidupnya tidak sholat kenapa kita doakan, wong paman nabi saja tidak mendapat ampunan, padahal yang mendoakan nabi

Selasa, Desember 17, 2013 8:14:00 AM

kalau orang hindu mengadakan 3 ,7,40, 100,1000 harinan, dan mendak. masak orang islam juga melaksanakan, toh sepertinya tidak ada hadisnya mengenei peringatan ini, lebih baik kita doakan saja setelah sholat kan lebih afdol.Pembeda antara orang islam dan kan kafir kan sholatnya.kalau hidupnya tidak sholat kenapa kita doakan, wong paman nabi saja tidak mendapat ampunan, padahal yang mendoakan nabi

Selasa, Desember 17, 2013 4:26:00 PM

jila rasul saja tidak pernah malakukan tahlilan, terus yg melaksanakan tahlilan itu pengikut rasul bukan y???? lalu mereka pengikut siapa y???? hehehe
jika mengaku pengikut rasul, y kerjakan yg dilakukan rasul dan jngan mengada2..

Sabtu, Desember 28, 2013 2:23:00 AM

ahlilan, doa, zikir (habib Munzir al musawa).
TAHLILAN
 
Pada hakikatnya majelis tahlil atau tahlilan adalah hanya nama atau sebutan untuk sebuah acara di dalam berdzikir dan berdoa atau bermunajat bersama. Yaitu berkumpulnya sejumlah orang untuk berdoa atau bermunajat kepada Allah SWT dengan cara membaca kalimat-kalimat thayyibah seperti tahmid, takbir, tahlil, tasbih, Asma’ul husna, shalawat dan lain-lain.
Maka sangat jelas bahwa majelis tahlil sama dengan majelis dzikir, hanya istilah atau namanya saja yang berbeda namun hakikatnya sama. (Tahlil artinya adalah lafadh Laa ilaaha illallah) Lalu bagaimana hukumnya mengadakan acara tahlilan atau dzikir dan berdoa bersama yang berkaitan dengan acara kematian untuk mendoakan dan memberikan hadiah pahala kepada orang yang telah meninggal dunia ? Dan apakah hal itu bermanfaat atau tersampaikan bagi si mayyit ?
 
Menghadiahkan Fatihah, atau Yaasiin, atau dzikir, Tahlil, atau shadaqah, atau Qadha puasanya dan lain lain, itu semua sampai kepada Mayyit, dengan Nash yg Jelas dalam Shahih Muslim hadits no.1149, bahwa “seorang wanita bersedekah untuk Ibunya yg telah wafat dan diperbolehkan oleh Rasul saw”, dan adapula riwayat Shahihain Bukhari dan Muslim bahwa “seorang sahabat menghajikan untuk Ibunya yg telah wafat”, dan Rasulullah SAW pun menghadiahkan Sembelihan Beliau SAW saat Idul Adha untuk dirinya dan untuk ummatnya, “Wahai Allah terimalah sembelihan ini dari Muhammad dan keluarga Muhammad dan dari Ummat Muhammad” (Shahih Muslim hadits no.1967).
 
dan hal ini (pengiriman amal untuk mayyit itu sampai kepada mayyit) merupakan Jumhur (kesepakatan) Ulama seluruh madzhab dan tak ada yg memungkirinya apalagi mengharamkannya, dan perselisihan pendapat hanya terdapat pada madzhab Imam Syafi’i, bila si pembaca tak mengucapkan lafadz : “Kuhadiahkan”, atau wahai Allah kuhadiahkan sedekah ini, atau dzikir ini, atau ayat ini..”, bila hal ini tidak disebutkan maka sebagian Ulama Syafi’iy mengatakan pahalanya tak sampai.
 
----

Sabtu, Desember 28, 2013 2:26:00 AM

Jadi tak satupun ulama ikhtilaf dalam sampai atau tidaknya pengiriman amal untuk mayiit, tapi berikhtilaf adalah pd Lafadznya. Demikian pula Ibn Taimiyyah yg menyebutkan 21 hujjah (dua puluh satu dalil) tentang Intifa’ min ‘amalilghair (mendapat manfaat dari amal selainnya). Mengenai ayat : "DAN TIADALAH BAGI SESEORANG KECUALI APA YG DIPERBUATNYA, maka Ibn Abbas ra menyatakan bahwa ayat ini telah mansukh dg ayat “DAN ORAN ORANG YG BERIMAN YG DIIKUTI KETURUNAN MEREKA DENGAN KEIMANAN”,
 
Mengenai hadits yg mengatakan bahwa bila wafat keturunan adam, maka terputuslah amalnya terkecuali 3 (tiga), shadaqah Jariyah, Ilmu yg bermanfaat, dan anaknya yg berdoa untuknya, maka orang orang lain yg mengirim amal, dzikir dll untuknya ini jelas jelas bukanlah amal perbuatan si mayyit, karena Rasulullah SAW menjelaskan terputusnya amal si mayyit, bukan amal orang lain yg dihadiahkan untuk si mayyit, dan juga sebagai hujjah bahwa Allah memerintahkan di dalam Al Qur'an untuk mendoakan orang yg telah wafat : "WAHAI TUHAN KAMI AMPUNILAH DOSA-DOSA KAMI DAN BAGI SAUDARA-SAUDARA KAMI YG MENDAHULUI KAMI DALAM KEIMANAN", (QS Al Hasyr-10).
 
Mengenai rangkuman tahlilan itu, tak satupun Ulama dan Imam Imam yg memungkirinya, siapa pula yg memungkiri muslimin berkumpul dan berdzikir?, hanya syaitan yg tak suka dengan dzikir.
Didalam acara Tahlil itu terdapat ucapan Laa ilaah illallah, tasbih, shalawat, ayat qur’an, dirangkai sedemikian rupa dalam satu paket dg tujuan agar semua orang awam bisa mengikutinya dengan mudah, ini sama saja dengan merangkum Al Qur’an dalam disket atau CD, lalu ditambah pula bila ingin ayat Fulani, silahkan Klik awal ayat, bila anda ingin ayat azab, klik a, ayat rahmat klik b, maka ini semua dibuat buat untuk mempermudah muslimin terutama yg awam.
Atau dikumpulkannya hadits Bukhari, Muslim, dan Kutubussittah, Alqur’an dengan Tafsir Baghawi, Jalalain dan Ilmu Musthalah, Nahwu dll, dalam sebuah CD atau disket, atau sekumpulan kitab,
bila mereka melarangnya maka mana dalilnya ?,
 
munculkan satu dalil yg mengharamkan acara Tahlil?, (acara berkumpulnya muslimin untuk mendoakan yg wafat) tidak di Al Qur’an, tidak pula di Hadits, tidak pula di Qaul Sahabat, tidak pula di kalam Imamulmadzahib, hanya mereka saja yg mengada ada dari kesempitan pemahamannya.
 
Mengenai 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari, atau bahkan tiap hari, tak ada dalil yg melarangnya, itu adalah Bid’ah hasanah yg sudah diperbolehkan oleh Rasulullah saw, justru kita perlu bertanya, ajaran muslimkah mereka yg melarang orang mengucapkan Laa ilaaha illallah?, siapa yg alergi dengan suara Laa ilaaha illallah kalau bukan syaitan dan pengikutnya ?, siapa yg membatasi orang mengucapkan Laa ilaaha illallah?, muslimkah?, semoga Allah memberi hidayah pada muslimin, tak ada larangan untuk menyebut Laa ilaaha illallah, tak pula ada larangan untuk melarang yg berdzikir pada hari ke 40, hari ke 100 atau kapanpun, pelarangan atas hal ini adalah kemungkaran yg nyata.
 

Sabtu, Desember 28, 2013 2:26:00 AM

Bila hal ini dikatakan merupakan adat orang hindu, maka bagaimana dengan computer, handphone, mikrofon, dan lainnya yg merupakan adat orang kafir, bahkan mimbar yg ada di masjid masjid pun adalah adat istiadat gereja, namun selama hal itu bermanfaat dan tak melanggar syariah maka boleh boleh saja mengikutinya, sebagaimana Rasul saw meniru adat yahudi yg berpuasa pada hari 10 muharram, bahwa Rasul saw menemukan orang yahudi puasa dihari 10 muharram karena mereka tasyakkur atas selamatnya Musa as, dan Rasul saw bersabda : Kami lebih berhak dari kalian atas Musa as, lalu beliau saw memerintahkan muslimin agar berpuasa pula” (HR Shahih Bukhari hadits no.3726, 3727).
 
Sebagaimana pula diriwayatkan bahwa Imam Masjid Quba di zaman Nabi saw, selalu membaca surat Al Ikhlas pada setiap kali membaca fatihah, maka setelah fatihah maka ia membaca AL Ikhlas, lalu surat lainnya, dan ia tak mau meninggalkan surat al ikhlas setiap rakaatnya, ia jadikan Al Ikhlas sama dengan Fatihah hingga selalu berdampingan disetiap rakaat, maka orang mengadukannya pada Rasul saw, dan ia ditanya oleh Rasul saw : Mengapa kau melakukan hal itu?, maka ia menjawab : Aku mencintai surat Al Ikhlas. Maka Rasul saw bersabda : Cintamu pada surat Al ikhlas akan membuatmu masuk sorga” (Shahih Bukhari).
 
Maka tentunya orang itu tak melakukan hal tsb dari ajaran Rasul saw, ia membuat buatnya sendiri karena cintanya pada surat Al Ikhlas, maka Rasul saw tak melarangnya bahkan memujinya.
 
Kita bisa melihat bagaimana para Huffadh (Huffadh adalah Jamak dari Al hafidh, yaitu ahli hadits yg telah hafal 100.000 hadits (seratus ribu) hadits berikut sanad dan hukum matannya) dan para Imam imam mengirim hadiah pd Rasul saw :
•Berkata Imam Alhafidh Al Muhaddits Ali bin Almuwaffiq rahimahullah : “aku 60 kali melaksanakan haji dengan berjalan kaki, dan kuhadiahkan pahala dari itu 30 haji untuk Rasulullah saw”.
• Berkata Al Imam Alhafidh Al Muhaddits Abul Abbas Muhammad bin Ishaq Atssaqafiy Assiraaj : “aku mengikuti Ali bin Almuwaffiq, aku lakukan 7X haji yg pahalanya untuk Rasulullah saw dan aku menyembelih Qurban 12.000 ekor untuk Rasulullah saw, dan aku khatamkan 12.000 kali khatam Alqur’an untuk Rasulullah saw, dan kujadikan seluruh amalku untuk Rasulullah saw”.
ia adalah murid dari Imam Bukhari rahimahullah, dan ia menyimpan 70 ribu masalah yg dijawab oleh Imam Malik, beliau lahir pada 218 H dan wafat pada 313H
•Berkata Al Imam Al Hafidh Abu Ishaq Almuzakkiy, aku mengikuti Abul Abbas dan aku haji pula 7X untuk rasulullah saw, dan aku mengkhatamkan Alqur’an 700 kali khatam untuk Rasulullah saw. (Tarikh Baghdad Juz 12 hal 111).
 
Walillahittaufiq

Minggu, Desember 29, 2013 12:58:00 PM

aneh2222222..
1,nabi kita melaksanakan tidak,, ingat!!!! NABI KITA!!!!!
2.siapa yang kita tiru penerusnya atau NABI KITA!!!!
3.INTINYA tahlilan itu kita juga kasian sama yg ditinggalkan ..BIASANYA 80,sekian% uang layatan yg harusnya buat yg ditinggalkan malah buat beli Gula,Minuman,Kue,Ayam,Beras.. dan masih bnyak lagi.
mending kl ada orang meninggal kita datang bawa beras , kue.dll itu akan lebih meringankan bgi yang ditinggalkan,,, doa anak yng soleh itulah salah satu yg diterima,,, bukanya nggk mendoakan malah sibuk mempersiapkan makanan dan minuman buat orang tahlilan...
BETUL?

Minggu, Desember 29, 2013 3:33:00 PM

Setelah kita memahami fakta yang terjadi di masyarakat, maka Islam memandang:

Berkumpulnya masyarakat di rumah si mayit dan menyediakan berbagai macam makanan adalah sebuah aktifitas yang agama Islam melarang. Sebagai mana hadis Imam Ahmad bahwa Abdullah bin Abu Ja’far pernah berkata saat Ayahnya meninggal, Rasulullah bersabda:

“buatkanlah makanan buat keluarga ja’far karena mereka didatangi oleh urusan (kematian) yang menyibukkan mereka atau telah datang kepada mereka apa yang menyibukkan mereka” (HR Ahmad).

Jadi menurut hadis di atas, justru yang dianjurkan untuk menyediakan makanan adalah adalah pelayat bukan keluarga yang ditinggal.

Bahkan imam syafi’i dengan keras mengatakan:

“aku benci al-ma’tam, yaitu berkumpul-kumpul di rumah ahli mayit meskiun tidak ada tangis, karena sesungguhnya yang demikian itu akan memperbarui kesedihan” (lihat Al-Umm, kitab karangan imam asy-syafi’i).

Dan masih banyak lagi hadis-hadis, ulama fiqh yang melarang untuk melakukan aktifitas-aktifitas yang ‘menyibukkan’ keluarga yang ditimpa musibah.
Wallahu ‘alam bis showab. (zuhrie)

Minggu, Desember 29, 2013 3:36:00 PM

say rasa mungkin sudah bnyak yg tau tp takut untuk tidak mengadakan tahlilan tp takut sama tetangga lainya,,

Rabu, Januari 01, 2014 12:45:00 AM

Maaf mau tanya bisa menafsirkan :
Allah memerintahkan di dalam Al Qur'an untuk mendoakan orang yg telah wafat : "WAHAI TUHAN KAMI AMPUNILAH DOSA-DOSA KAMI DAN BAGI SAUDARA-SAUDARA KAMI YG MENDAHULUI KAMI DALAM KEIMANAN", (QS Al Hasyr-10).
Mengenai hal 3 perkara putusnya amal itu adalah amal si mayyit :), kalo doa kita ga sampai kenapa ada di Al-qur'an yg menerangkan ayat tersebut ?
Mengenai rangkuman tahlilan itu, tak satupun Ulama dan Imam Imam yg memungkirinya, siapa pula yg memungkiri muslimin berkumpul dan berdzikir?, hanya syaitan yg tak suka dengan dzikir.
Didalam acara Tahlil itu terdapat ucapan Laa ilaah illallah, tasbih, shalawat, ayat qur’an, dirangkai sedemikian rupa dalam satu paket dg tujuan agar semua orang awam bisa mengikutinya dengan mudah.
munculkan satu dalil yg mengharamkan acara Tahlil?, (acara berkumpulnya muslimin untuk mendoakan yg wafat) tidak di Al Qur’an, tidak pula di Hadits, tidak pula di Qaul Sahabat, tidak pula di kalam Imamulmadzahib, hanya mereka saja yg mengada ada dari kesempitan pemahamannya.
Alangkah indahnya perbedaan tapi dengan pikiran yang dingin, jernih & dan tidak mengambil kesimpulan dengan singkat :D

Rabu, Januari 01, 2014 1:38:00 AM

@zuhrie begitu mudahnya anda menafsirkan hadis imam syafi'I melarang tahlilan, hati2 dalam menafsirkan ini di baca umat, jgn mensimpulkan seperti itu, coba di baca lagi jgn sepotong liat di penafsiran dulu, coba anda tunjukan ada ga hadist yg melarang/mengharamkan tahlilan ?

Rabu, Januari 01, 2014 1:50:00 AM

Maaf ralat itu tulisan zuhrie ato bandi herdry, ato 2 orng, ato copas ? Sekedar saran sebelum copas, di pelajari dulu :D. Jadi ga salah membaca. Boleh2 aja copas sah2 aja ;)

Minggu, Januari 05, 2014 3:42:00 PM

1,nabi kita melaksanakan tidak,, ingat!!!! NABI KITA!!!!!
2.siapa yang kita tiru penerusnya atau NABI KITA!!!!
3.INTINYA tahlilan itu kita juga kasian sama yg ditinggalkan ..BIASANYA 80,sekian% uang layatan yg harusnya buat yg ditinggalkan malah buat beli Gula,Minuman,Kue,Ayam,Beras.. dan masih bnyak lagi.
mending kl ada orang meninggal kita datang bawa beras , kue.dll itu akan lebih meringankan bgi yang ditinggalkan,,, doa anak yng soleh itulah salah satu yg diterima,,, bukanya nggk mendoakan malah sibuk mempersiapkan makanan dan minuman buat orang tahlilan

Minggu, Januari 05, 2014 3:47:00 PM

Bukanya mengharamkan... cuma takut kl merepotkan keluarga mayit pd waktu acara tahlilan dan sesudahnya,,, bukan biaya sedikit lo mas... mending kita doakan dari rumah and stlah itu kita datang kerumah keluarga mayit sambil memberikan sesuatu yang bermanfaaat bg keluarga mayit...

Minggu, Januari 05, 2014 3:51:00 PM

ini ada pertanyaan mas ady dari mas sudirman akil diatas tgl 27 bulan mei kemaren,,,,,MAU TANYA SEBELUM RASULLAH WAFAT PASTI ADA SAHABAT RASULLA YG MENINGGAL LEBI DULU, ADAKAH SEBUAH HADIS YG SOHIH YG MENERANGKAN BAHWA RASULLULAH MENGADAKAN 3 HARIAN ,7 HARIAN BUAT SIMAYIT..?

Senin, Januari 06, 2014 7:23:00 PM

Mas sudah saya jelaskan tahlilan bukan kewajiban, dan di salaf ga ada yg mewajibkan tahlilan, kami hanya mendoakan dengan menyebut lafad Allah yg di rangkum sedemikian rupa, lalu dinamai dengan nama tahlilan, apa salah? Apa haram ? Kalo ga mengharamkan apa yg anda perdebatkan disini ? Jgnlah anda termasuk golongan yg mengolok2 agama lain sebelum anda paham dengan keyakinan anda, ga ada paksaan melaksanakn tahlilan, tergantung kita masing2. karena di al-qur'an itu sudah ada ayatnya. Mohon dibaca lagi tulisan saya dengan seksama, masalah hadis maupun ayat Al-qur'an. Kalau ada orang bertanya dan sudah di jawab/ diterangkan berkali2 lalu dia masih bertanya lagi masalah itu brrti termasuk golongan apa mas ? Anda tau sendiri jawabannya, semoga paham :D

Selasa, Januari 07, 2014 3:25:00 PM

Para wali dulu berupaya memasukkan islam dalam ritual setelah kematian, 3, 7, 40 hr dst... supaya tdk kaget bg masyarakat jawa yg baru masuk islam dan mereka yakin nt akan ada generasi yg akan memperbaikinya. Jd kl sekarang kita masih tetap melakukannya bahkan melestarikannya, kapan tercapainya apa yg dicitakan oleh para wali. Jd harus dimulai dr sekarang, mulai dari diri kita, keluarga dan kerabat kt utk menghilangkannya. Saya dulu jg sering mengikuti acara2 tsb, namun setelah mengetahui dalil-dalilnya dan membandingkan argumen antara yg pro dan kontra, maka sy ambil kesimpulan bhw lebih selamat adalah mengikuti petunjuk nabi dan sahabat dan salafus sholeh yg mengikuti mereka dgn baik. Ada kaidah agama yg sgt baik:
- SEDERHANA DLM SUNNAH ADALAH LEBIH BAIK DARIPADA BERIJTIHAD DALAM HAL2 YG BARU.
- IBADAH ITU HUKUM ASALNYA HARAM KECUALI ADA PERINTAH ATAU CONTOH, (SHG TDK BISA DIBALIK UNTUK MENUNJUKKAN ADA ATAU TIDAK DALIL YG MELARANGNYA, APALAGI MEMANG HAL YG BARU YG ZAMAN NABI TDK DILAKUKAN)

DAMPAK YG KURANG BAIK DARI HAL YG BARU ADALAH :
- SEAKAN-AKAN MENJADI SUATU KEHARUSAN BG PELAKUNYA KHUSUSNYA YG AWAM,
- TIMBUL PERKATAAN YG TDK BAIK BG ORANG YG TDK MENGIKUTINYA,
- MENGALAHKAN HAL2 YG WAJIB,
- DIKHAWATIRKAN MJD AMALAN YG TERTOLAK SBGMANA SABDA NABI

AKAN TETAPI YG LEBIH PENTING LAGI ADALAH:
- MARI KITA BERUSAHA BERPIKIRAN TERBUKA DLM BERAGAMA, SELALU BELAJAR DAN MENAMBAH ILMU DARI MANAPUN, JGN HY DARI ULAMA YG ADA DI ORMAS ATAU ORGANISASI KITA, JGN MERASA SUDAH CUKUP ILMU KITA
- KITA HINDARI MEMBERIKAN PERKATAAN YG KERAS KEPADA SAUDARA2 KITA, KARENA KT KETAHUI BERSAMA BAHWA ADA PERBEDAAN LATAR BELAKANG PENDIDIKAN, KEPAHAMAN, LINGKUNGAN DLL
- KITA BERUSAHA MENASEHATI DGN IKHLASH DGN SELALU MENJAUHI PENYAKIT HATI YG AKAN TERCERMIN DALAM KATA2 YG TERUCAP DAN TERTULIS. KERENA GODAAN SYAITHON PADA SEMUA ORG BAIK ULAMA MAUPUN BUKAN.
WALLAAHU A'LAM
SMG ALLAH MEMBERIKAN PETUNJUK KPD KITA SEMUA DAN MENGANUGERAHKAN KT AKHIR HIDUP YG BAIK. AAMIIN.
WASSALAAMU'ALAIKUM

Selasa, Januari 07, 2014 10:45:00 PM

@ahmad fanani
Kita kembalikan sesuai keyakinan kita masing, anda punya pedoman begitupun kami, ini topic penjelasan salaf, jgn mudah mem bid'ah atau mengkafirkan golongan lain kalau anda belum mengetahuinya,jgnlah menjadi provokator yg berkedok agama ;), saya tau anda pernah tahlil, tapi apa anda tau inti dari tahlil ? Atau anda sudah merasa orang paling pintar dari orang2 salaf, sehingga anda menyalahkan keyakinan kami :D ? Maaf Saya orang paling bodoh mas, tapi saya tau inti dari tahlil :D. coba anda temukan din samsudin sama q.sihab suruh dia berdialog masalah tahlil apakah dia mau ? Jawabanya pasti menjaga ukuwah sesuai keyakinan kita masing2, karena mereka punya keyakinan masing2 dan mereka berpendidikan.

Rabu, Januari 08, 2014 2:03:00 PM

Silahkan kl anda py pndapat demikian, yg penting punya dasar yg kuat dan sdh membandingkan argumen dari yg setuju atau tidak setuju. Karena nt masing2 kt bertanggung jwb di akhirat atas sgl yg kt perbuat.
Cuma yg menjadi pertanyaan lg adalah: mengapa banyak saudara2 kt yg dulunya ikut acara2 tsb, sekarang sdh tdk ikut lg. Sedangkan sebaliknya jarang terjadi atau bahkan tdk ada, org yg dulu berpendapat tdk setuju dgn kegiatan tsb kemudian menjadi setuju.
Kl saya lebih baik memilih amalan yg aman dan tdk mengundang perbedaan pendapat. karena betapa banyak amalan sunnah Nabi yg sdh jelas, yg kt belum bs lakukan ...

mhn maaf

Rabu, Januari 08, 2014 8:09:00 PM

Makasih atas pengertiaannya :)
Sudah pasti kita akan pertanggung jawabkan kelak mas :)
Ternyata menurut anda salah mas, mayoritas adalah golongan salaf :) mungkin segelintir di daerah anda yg meninggalkan tahlil :D. Silahkan disurvey :D
Mohon maaf juga ;)

Kamis, Januari 09, 2014 11:58:00 AM

Kl boleh tahu, menurut Bpk. Ady siapa golongan salaf, yg disebutkan mayoritas itu?

Kamis, Januari 09, 2014 8:57:00 PM

@ahmad fanani, apa perlu saya jelaskan secara terperinci disini ? Coba anda tanyakan dulu kepada guru anda, intinya GOLONGAN YANG SELAMAT, atau menurut bahasa adalah pendahulu/yang terdahulu. Diantara penjelasanannya Golongan selamat banyak difitnah dan dilecehkan dengan gelar yang buruk. Kalau di jelaskan disini akan keluar topik, silahkan chat by person :) Maaf apabila ada kata2 yg tersinggung.

Jumat, Januari 10, 2014 10:12:00 AM

BISMILLAAH..
Memang jk dijelaskan disini akan menjadi panjang, masalahnya banyak kelompok atau organisasi yg mengklaim/mengaku ahlussunnah wal jama'ah maupun sebagai golongan yg selamat. Makanya bg kt selaku muslim yg dianjurkan utk selalu menuntut ilmu, harus tahu argumen dari masing2 kelompok tsb.
Alhamdulillah sy sdh melakukan pembandngan tsb, dan berkesimpulan bahwa: yang paling selamat dalam menjalankan agama ini adalah yg memahami dan mengamalkan Islam sesuai dgn pemahaman Nabi Muhammad SAW, yg telah beliau jelaskan kpd para sahabat, dan tabi'in maupun tabi'ut tabi'in.. apalagi permasalahan ttg jenazah dst sdh sangat jelas diterangkan.
Inilah yg dikhawatirkan oleh Sunan Ampel, Sunan Bonang dan Sunan Giri dampak dari hal yg baru dalam beribadah, akan tetapi takdir Allah melalui musyawarah para wali bhw di Indonesia khususnya di jawa, memang islam dikenalkan ke masyarakat wkt itu (Hindu dan Budha) melalui ritual yg sdh berlaku dimasyarakat dan berharap dgn izin Allah Subhaanahu wata'ala, nt ada generasi yg memperbaikinya sehingga dpt menjalankan Islam dgn murni sesuai contoh Nabi, sahabat, tabi'in dan tabiut tabi'in, merekalah yg disebut salafusholeh, generasi terbaik dari umat ini... sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam tentang keunggulan generasi salaf:
“Sebaik-baik zaman adalah di zamanku (sahabat), kemudian orang sesudah mereka (tabi’in) dan kemudian orang sesudah mereka (atba’ tabi’in).” (Riwayat Bukhari).

Jumat, Januari 10, 2014 10:13:00 AM

Dua riwayat yg menuntut kt utk berhati-hati thd hal yg baru, dalam menjalankan agama ini (bagaimana kehati-hatian sahabat dalam menjalankan agama):
1. Al-Imaam Ad-Daarimiy dalam Sunan-nya (no. 210 – tahqiq : Husain Salim Asad)... ‘Amru bin Yahya, ia berkata : Aku mendengar ayahku meriwayatkan hadits dari ayahnya, ia berkata : Sebelum shalat shubuh, kami biasa duduk di depan pintu ‘Abdullah bin Mas’ud ra. Jika dia sudah keluar rumah, maka kami pun berjalan bersamanya menuju masjid. Tiba-tiba kami didatangi oleh Abu Musa Al-Asy’ariy ra, seraya bertanya : “Apakah Abu ‘Abdirrahman (‘Abdullah bin Mas’ud) sudah keluar menemui kalian ?”. Kami menjawab : “Belum”. Lalu dia pun duduk bersama kami hingga ‘Abdullah bin Mas’ud keluar rumah. Setelah dia keluar, kami pun bangkit menemuinya. Abu Musa berkata : “Wahai Abu ‘Abdirrahman, tadi aku melihat kejadian yang aku ingkari di masjid, namun aku menganggap – segala puji bagi Allah – hal itu adalah baik”. Kata Ibnu Mas’ud : “Apakah itu ?”. Abu Musa menjawab : “Jika engkau berumur panjang, engkau akan mengetahui. Ada sekelompok orang di masjid, mereka duduk ber-halaqah sedang menunggu shalat. Setiap kelompok dipimpin oleh seseorang, sedang di tangan mereka terdapat kerikil. Lalu pimpinan halaqah tadi berkata : ‘Bertakbirlah seratus kali’, maka mereka pun bertakbir seratus kali. ‘Bertahlillah seratus kali’, maka mereka pun bertahlil seratus kali. ‘Bertasbihlah seratus kali’, maka mereka pun bertasbih seratus kali”. Ibnu Mas’ud bertanya : “Lalu apa yang engkau katakan kepada mereka ?”. Abu Musa menjawab : “Aku tidak berkata apa2 hingga aku menunggu apa yang akan engkau katakan atau perintahkan”. Ibnu Mas’ud berkata : “Tidakkah engkau katakan kepada mereka agar mereka menghitung kesalahan mereka dan kamu jamin bahwa kebaikan mereka tidak akan disia-siakan”. Lalu Ibnu Mas’ud berlalu menuju masjid tersebut dan kami pun mengikuti di belakangnya hingga sampai di tempat itu. Ibnu Mas’ud bertanya kepada mereka : “Benda apa yang kalian pergunakan ini ?”. Mereka menjawab : “Kerikil wahai Abu ‘Abdirrahman. Kami bertakbir, bertahlil, dan bertasbih dengan mempergunakannya”. Ibnu Mas’ud berkata : “Hitunglah kesalahan-kesalahan kalian, aku jamin kebaikan-kebaikan kalian tidak akan disia-siakan sedikitpun. Celaka kalian wahai umat Muhammad ! Betapa cepat kebinasaan/penyimpangan yang kalian lakukan. Para shahabat Nabi kalian masih banyak yang hidup. Sementara baju beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga belum lagi usang, bejana beliau belum juga retak. Demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya ! Apakah kalian merasa berada di atas agama yang lebih benar daripada agama Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ataukah kalian akan menjadi pembuka pintu kesesatan ?”. Mereka menjawab : “Wahai Abu ‘Abdirrahman, kami tidaklah menghendaki kecuali kebaikan”. Ibnu Mas’ud menjawab : “Betapa banyak orang yang menghendaki kebaikan namun ia tidak mendapatkannya....

Jumat, Januari 10, 2014 10:15:00 AM

LANJUTAN...
2. Abdullah bin Umar ra. adalah sahabat Nabi yang paling keras dalam menentang segala macam hal yg baru dan beliau sangat senang dalam mengikuti As-Sunnah. Dari Nafi’, pada suatu saat mendengar seseorang bersin dan berkata: ”Alhamdulillah was sholatu was salamu’ala Rasulillah.” Berkatalah Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhu: ”Bukan demikian Rasulullah shollallahu ’alaihi wasalam mengajari kita, tetapi beliau bersabda: ’Jika salah satu di antara kamu bersin, pujilah Allah (dengan mengucapkan): Alhamdulillah’, tetapi beliau tidak mengatakan: ’lalu bacalah sholawat kepada Rasulullah!" (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Kitab Sunan-nya no. 2738 dengan sanad yang hasan dan Hakim 4/265-266)
APALAGI KITA SEKARANG INI HIDUP SETELAH 14 ABAD LEBIH DARI RASULULLAH, TENTU BANYAK SEKALI HAL-HAL BARU YG DINISBATKAN KEPADA ISLAM.
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
"Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.” (HR. Muslim no. 208)
DEMIKIAN, SMG MENJADI BAHAN RENUNGAN BG KT
MUNGKIN KT CUKUPI SAMPAI DISINI DISKUSI KT DI MEDIA INI, KARENA sebenarnya sy tdk suka berdebat panjang lebar, karena kt diperintahkan utk banyak beramal sesuai yg dicontohkan, bukan banyak berdebat, yg hanya akan mengeraskan hati. Apalagi debat di media massa yg bisa dibaca semua orang, baik ulama, org awam, iman maupun kafir tentu akan berdampak tdk baik.
Jk menghendaki diskusi pribadi, baik ttg agama ataupun yg lain berikut ini no hp: AHMAD FANANI 081216122742

Semoga Allah subhaanahu wata'ala memberi petunjuk, merahmati dan mengampuni sgl kesalahan kita, serta istiqomah dlm menjalankan agama ini.
Wassalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

Selasa, Januari 14, 2014 3:13:00 PM

terimakasih mas ahmad

Sabtu, Januari 25, 2014 3:15:00 AM

saya orang awam menyimpulkan; cari yang aman aja laah.. yg kuat dasarnya. jgn mengada2 dlm beramal

Jumat, Februari 21, 2014 4:48:00 PM

saya juga mulai mengkaji salafi ,dan lebih yakin ke salafi.

Sabtu, Maret 01, 2014 2:38:00 PM

oala tahlilan aja di persoalkan,pdahal itu amalan yg baik msih aja bingung tentang dalilnya ato argumennya.ituma pribadi seseorang maungadakan boleh mau engga ya boleh2 aja GITU AJA KOK REPOT ma.ituma bukan bid'ah cuman amalan sunnah.apakah membaca tahlil orang banyak ndak boleh ama rosull kang mas.......ada ada aj ......

Sabtu, Maret 01, 2014 3:31:00 PM

SLAM INDONESIA BUKAN ISLAM SAUDI ARABIA....SAYA PERNAH TAHLILAN TAPI GA BUAT MAKANAN TETAP AJA JALAN TAHLILAN.... KALO KITA ORANG PUNYA YA SILAKAN DISUGUHKAN... KALO ENGGA JUGA... PAK KIYAI TETAP IKLAS BACA DOA DAN TAHLILAN.... JADI UKURAN TAHLILAN BUKAN DARI MAKANAN,,,,

Sabtu, Maret 01, 2014 3:32:00 PM

SLAM INDONESIA BUKAN ISLAM SAUDI ARABIA....SAYA PERNAH TAHLILAN TAPI GA BUAT MAKANAN TETAP AJA JALAN TAHLILAN.... KALO KITA ORANG PUNYA YA SILAKAN DISUGUHKAN... KALO ENGGA JUGA... PAK KIYAI TETAP IKLAS BACA DOA DAN TAHLILAN.... JADI UKURAN TAHLILAN BUKAN DARI MAKANAN,,,,

Sabtu, Maret 01, 2014 3:33:00 PM

SLAM INDONESIA BUKAN ISLAM SAUDI ARABIA....SAYA PERNAH TAHLILAN TAPI GA BUAT MAKANAN TETAP AJA JALAN TAHLILAN.... KALO KITA ORANG PUNYA YA SILAKAN DISUGUHKAN... KALO ENGGA JUGA... PAK KIYAI TETAP IKLAS BACA DOA DAN TAHLILAN.... JADI UKURAN TAHLILAN BUKAN DARI MAKANAN,,,,

Sabtu, Maret 01, 2014 3:33:00 PM

SLAM INDONESIA BUKAN ISLAM SAUDI ARABIA....SAYA PERNAH TAHLILAN TAPI GA BUAT MAKANAN TETAP AJA JALAN TAHLILAN.... KALO KITA ORANG PUNYA YA SILAKAN DISUGUHKAN... KALO ENGGA JUGA... PAK KIYAI TETAP IKLAS BACA DOA DAN TAHLILAN.... JADI UKURAN TAHLILAN BUKAN DARI MAKANAN,,,,

Sabtu, Maret 01, 2014 3:33:00 PM

SLAM INDONESIA BUKAN ISLAM SAUDI ARABIA....SAYA PERNAH TAHLILAN TAPI GA BUAT MAKANAN TETAP AJA JALAN TAHLILAN.... KALO KITA ORANG PUNYA YA SILAKAN DISUGUHKAN... KALO ENGGA JUGA... PAK KIYAI TETAP IKLAS BACA DOA DAN TAHLILAN.... JADI UKURAN TAHLILAN BUKAN DARI MAKANAN,,,,

Sabtu, Maret 01, 2014 3:33:00 PM

SLAM INDONESIA BUKAN ISLAM SAUDI ARABIA....SAYA PERNAH TAHLILAN TAPI GA BUAT MAKANAN TETAP AJA JALAN TAHLILAN.... KALO KITA ORANG PUNYA YA SILAKAN DISUGUHKAN... KALO ENGGA JUGA... PAK KIYAI TETAP IKLAS BACA DOA DAN TAHLILAN.... JADI UKURAN TAHLILAN BUKAN DARI MAKANAN,,,,

Sabtu, Maret 08, 2014 10:09:00 AM

Mas atau Mbak yang mungkin tidak setuju dg kebiasaan ini, mungkin perlu melihat atau bertanya langsung kepada orang2 yang melangsungkan kebiasaan ini, saya sendiri hidup di lingkungan NU, dan di lingkungan saya tinggal acarra ini sering diadakan termasuk keluarga saya sendiri,
Jika ada yg berkomentar " bukannya tahlilan itu perlu biaya untuk ini itu,kadang smp memaksakan diri untuk berhutang, apakah itu tdk dosa?", mbak/mas praktik nya gak ky gitu, keluarga saya pernah suatu ketika mengadakan tahlilan dan tamu nya hanya disuguh segelas teh panas dan krupuk dan sambel, pisang goreng, krn pd saat itu keluarga saya gak punya biaya untuk menyediakan makanan yg mewah, tp kami ikhlas sebagai masyarakat desa yang kekeluargaannya mash kental dan sangat menghargai tamu, maka kami harus menjamunya wlp dg ala kadarnya. inti nya disini saya mau bicara gak ada yang namanya maksa2in utang untuk mengadakan sebuah acara tahlilan.
berkaitan dg acara tahlilan ini, praktiknya di desa, tidak serta merta secara khusus acara tahlilan ini diadakan, tp perlu mbak/mas tau di desa2 setiap RT ada namanya Jamaah Yasin para kaum pria, acara nya biasanya arisan, setelah itu baca yasin baca tahlil, tujuannya ya spy mengeratkan tali silaturahmi antar tetangga, spy info2 kita tau info2 tentang tetangga kita, misal ada tetangga yang sakit kita tahu dan kemudian bersama2 menjenguk. nah biasanya acara2 tahlilan ini diberengin dg acara2 itu,
jadi cb mas/mbak berkunjunglah, tabayyun, supaya anda ngerti dan kita gak saling mengkalim ini yg benar dan ini yg salah, tks

Senin, Juli 14, 2014 1:49:00 AM

tapi aku hobi tahlilan, bro..........

Kamis, Desember 11, 2014 8:58:00 PM

http://shufi-indonesia.blogspot.com/2014/11/tradisi-semuanya-sesat.html

Poskan Komentar

Silahkan tulis

Bacaan Populer

 
Didukung : Salafiyyah Fans Page | PISS-KTB | Group Alumni
Copyright © 2006. Pesantren As-Salafiyyah - Boleh dicopy asal mencantumkan URL dokumen
Template Modified by info@as-salafiyyah.com | Published by BoloplekCD
Proudly powered by ePUSTAKA ISLAMI