Mbah Hasyim Asy'ari dan Mbah Ahmad Dahlan

Oleh: KH Yahya Cholil Staquf


Hadlratusy Syaikh Muhammad Hasyim bin Asy’ari Basyaiban adalah kyai semesta. Guru dari segala kyai di tanah Jawa. Beliau kyai paripurna. Apa pun yang beliau dhawuhkan menjadi tongkat penuntun seumur hidup bagi santri-santrinya, bahkan sesudah wafatnya.

Nahdlatul Ulama adalah warisan beliau yang terus dilestarikan hingga para cucu-santri dan para buyut-santri, hingga sekarang. Segerombol 
jama’ah dalam merek jam’iyyah yang kurang rapi, sebuah ikatan yang yang ideologinya susah diidentifikasi, identitas yang nyaris tanpa definisi… tapi toh begitu terasa balutannya… bagi mereka yang —entah kenapa— mencintainya…

Barangkali karena memang Nahdlatul Ulama itu ikatan yang azali, cap yang dilekatkan pada ruh sejak dari sononya, sebagaimana Hadlaratusy Syaikh sendiri mencandranya:


بيني وبينكم في المحبة نسبة

مستورة في سر هذا العالم
نحن الذون تحاببت أرواحنا
من قبل خلق الله طينة آدم

antara aku dan kalian ada tautan cinta

tersembunyi dibalik rah’sia alam
arwah kita sudah saling mencinta
sebelum Allah mencipta lempungnya Adam

Ke-NU-an sejati ada di hati, bukan nomor anggota.


Kyai Abdul Karim Hasyim, putera Hadlratusy Syaikh sendiri, menolak ikut ketika NU keluar dari Masyumi. Demikian pula salah seorang santri Hadlratusy Syaikh, Kyai Majid, ayahanda Almarhum Prof. Dr. Nurcholis Majid. Mereka berdua memilih tetap didalam Masyumi. Apakah mereka tak lagi NU? Belum tentu. Mereka memilih sikap itu karena berpegang pada pernyataan Hadlratusy Syaikh semasa hidupnya —NU keluar dari Masyumi sesudah Hadlratusy Syaikh wafat: “Masyumi adalah satu-satunya partai bagi ummat Islam Indonesia!”


Apakah sikap pilihan mereka itu 
mu’tabar atau tidak, adalah soal ijtihadi. Tapi saya sungguh ingin mempercayai bahwa di hati mereka berdua tetap bersemayam ke-NU-an yang berpendar-pendar cahayanya.

Pada suatu hari di awal abad ke-20, salah seorang santri datang ke Tebuireng untuk mengadu. Santri itu Basyir namanya, berasal dari kampung Kauman, Yogyakarta. Kepada kyai panutan mutlaknya itu, santri Basyir mengadu tentang seorang tetangganya yang baru pulang dari mukim di Makkah, yang kemudian membuat 
odo-odo “aneh” sehingga memancing kontroversi diantara masyarakat kampungnya.

“Siapa namanya?” tanya Hadlratusy Syaikh.


“Ahmad Dahlan”


“Bagaimana ciri-cirinya?”


Santri Basyir menggambarkannya.


“Oh! Itu Kang Dahlan!” Hadlratusy Syaikh berseru gembira. Orang itu, beliau sudah mengenalnya. Teman semajlis dalam pengajian-pengajian Syaikh Khatib Al Minangkabawi di Makkah sana.


“Tidak apa-apa”, kata Hadlratusy Syaikh, “yang dia lakukan itu 
ndalan (ada dasarnya). Kamu jangan ikut-ikutan memusuhinya. Malah sebaiknya kamu bantu dia”.

Santri Basyir patuh. Maka ketika kemudian Kyai Ahmad Dahlan medirikan Muhammadiyah, Kyai Basyir adalah salah seorang tangan kanan utamanya.


Apakah Kyai Basyir “tak pernah NU”? Belum tentu. Puteranya, Azhar bin Basyir, beliau titipkan kepada Kyai Abdul Qodir Munawwir (Kakak ipar Kyai Ali Ma’shum) di Krapyak, Yogyakarta, untuk memperoleh pendidikan Al Quran dan ilmu-ilmu agama lainnya. Pengajian-pengajian Kyai Ali Ma’shum pun tak ditinggalkannya.


Belakangan, Kyai Azhar bin Basyir terpilih sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah menggantikan AR Fahruddin. Kepada teman sekombong saya, Rustamhari namanya, anak Godean yang menjadi Ketua Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah UGM, saya gemar meledek,


“Kamu nggak usah macam-macam”, kata saya waktu itu, “ketuamu itu ORANG NU!”


Share this article :
 

+ komentar + 2 komentar

Minggu, April 08, 2012 12:52:00 AM

betul-betul, Nu ruhnya, Muhammadiyah jasadnya...gitu kali yah,

Minggu, Juni 16, 2013 10:27:00 AM

Beberapa kejadian Penting.
Penyepuhan “ Bambu Runcing Temanggung” di Tebuireng atas permintaan HadrotuSyeh K.H Hasyim Asyari
Pada suatu siang yang sangat cerah datang utusan bupati wonosobo melalui bupati Temanggung (Pelindung BMT) meminta dengan sangat agar dilakukan “penyepuhan” dan dirawuhi para Kyai Temanggung Bambu Runcing untuk pemuda Wonosobo yang jumlahnya sangat banyak sekali.
Berhubung pada waktu itu ditemanggung parakan sendiri banyak tamu tang tidak henti- hentinya meminta barokah dan tidak mungkin bisa ditinggalkan, maka yang bisa hadir di wonosobo hanya, K.H Subchi, K.Baedhowi dan beberapa badal. Demikian pula dan utusan dari Gubuk Purwodadi dengan maksud yang sama, juga dari pati. Yang hadir di Gubuk iyalah K.H Nawawi atas nama Sabillillah dan teman- temannya yang hadir di Pati ialah K.H Subchi, K. Baehdowi dan Bapak sulaiman basir/ Chisbullah.
Pada waktu itu Kyai- Kyai Temanggung juga memberi Ijazah Penyepuhan Bambu Runcing kepada sebagian ulama luar daerah Temanggung yang dipandang perlu dan mampu diantaranya : K.H Danusiri dari desa Jetis Susukan Salatiga yang dibantu K.Toha, K.H Jumari, K.Ghomrowi di ijinkan menyepuh didaerahnya sebagai badal. Begitu juga K.H Muntaha ch Kalibeber mojotengah kab. Wonosobo , K Muchlas Panggung Tegal di pekalongan, serta seorang Kyai dari daerah antar banyumas cilacap.
Berita yang sangat menggembirakan yaitu Almukarom romo Kyai Hasyim Asyari Tebuireng Jomban Jawa Timur, Rois Aam NU akan Ngrawuhi di parakan ( BMT).
Pengurus BMT dan para Ulama segera mengadakan musyawarah. Hasil musyawarah: jangan sampai HadrotuSyeh K.H Hasyim Asyari rawuh dulu keTemanggung, tetapi kita dulu yang sowan kepada beliau di Tebuireng Jombang. Maka yang menghadap sowan kesana adalah : K.H Subchi, K.H Nawawi, K Ali, K. Shahit baydhowi, mereka yang sowan kesana, ternyata didawuhi juga menyepuh “Bambu Runcing”oleh bapak K.H Hasyim Asyari penyepuhan dilakukan dengan tatacara seperti di parakan. Sejak saat itu K.H Subchi dan “Bambu Runcing” Temanggung Mulai Tersohor di Jawa Timur.

Poskan Komentar

Silahkan tulis

Bacaan Populer

 
Didukung : Salafiyyah Fans Page | PISS-KTB | Group Alumni
Copyright © 2006. Pesantren As-Salafiyyah - Boleh dicopy asal mencantumkan URL dokumen
Template Modified by info@as-salafiyyah.com | Published by BoloplekCD
Proudly powered by ePUSTAKA ISLAMI