KETIKA MTA (MAJELIS TAFSIR AL-QURAN) MAKIN MENGGILA



Oleh: Muhammad Idris Mas'udi

Siapa sangka jika di kawasan keraton Surakarta terdapat bangunan megah nan mewah yang konon menghabiskan dana sekitar 13 Milyar. Konon, dana tersebut adalah hasil sumbangan dari para jama’ahnya selama kurang lebih sebelas bulan. Sungguh hal yang sangat luar biasa. Sebuah kelompok pengajian yang baru dirintis sekitar tahun 1972 ini sudah mampu mendirikan bangunan yang mewah.
            Pada mulanya, penulis tidak begitu “ngeh” dengan MTA, namun kemudian dikenalkan oleh seorang senior yang berbaik hati yang mau membagi wawasan keilmuannya kepada penulis tentang kajian keislaman. Kemudian senior tersebut memberikan sebuah link MTA (http://mta-online.com/v2) untuk membaca dan mengkaji isi dari website tersebut. Penulis akhirnya tertarik untuk mengunduh file-file yang terdapat dalam website tersebut. Kemudian setelah lama tersimpan dalam laptop jadul penulis, penulis mencoba membacanya dengan sabar. Kemudian tidak lama kemudian, ada seorang kawan di pesbuk yang menanyakan tentang MTA. Dari situ, keingintahuan penulis untuk mengetahui MTA semakin memuncak setelah mendengar kabar bahwa Pak Said Aqil (Ketum PBNU) pernah menulis opini di salah satu media yang isinya mengeritik MTA. Tak lama berselang, salah seorang pengurus MTA mengeritik tulisan Pak Said tersebut. Puncaknya, penulis diberikan oleh-oleh Majalah Aula PWNU Jatim edisi Juni yang isinya –hampir 60%- berisikan tentang MTA.
Sejauh ini, paling tidak –sejauh amatan penulis di beranda fesbuk penulis-, belum ada satupun teman-teman penulis yang menyuguhkan informasi tentang MTA. Penulis tidak tahu apakah hal ini dikarenakan kajian mereka (MTA) tidak memikat dan tidak berbobot sehingga malas dan merasa rugi untuk capek-capek membaca dan mengkaji seputar MTA. Atau mungkin ada alasan lainnya. Mungkin pertanyaan selanjutnya adalah “Ada apa dengan MTA?”, kok mau-maunya penulis menyibukkan diri membaca artikel2 MTA dan menulis tentangnya? Yang menarik –bagi penulis- adalah artikel-artikel mereka dikemas dalam bentuk yang sangat rapih dan enak dipandang. Referensi yang digunakan adalah al-Quran dan Hadis. Akan tetapi sedikit banyak –sependek amatan penulis- tulisan mereka dapat “menipu” para pembaca yang tidak  cermat dan jeli dalam kajian al-Qur’an dan Hadis. Sebagai misal, mereka dengan begitu halus mengeritik dalil tentang kesunahan puasa tanggal sepuluh dan sebelas Muharram melalui kajian kritik hadis. Karena itu, di samping mendapatkan stimulus dari seorang senior, penulis juga merasa tergugah untuk ikut berpartisipasi dalam kajian ini.
            Dengan keterbatasan waktu dan kemampuan penulis, penulis berusaha menampilkan sebuah contoh kajian kritik hadis “serampangan” mereka dalam memberangus tradisi yang telah dilakukan oleh warga Nahdliyin.

MAJLIS TAFSIR AL-QUR’AN
(MTA) PUSAT
http://www.mta-online.com   e-mail : humas_mta@yahoo.com  Fax : 0271 661556
J Semanggi 06/15, Pasarkliwon, Solo, Kode Pos 57117, Telp. 0271 643288
Ahad, 26 Desember 2010/20 Muharram 1432   BrosurNo.:1537/1577/IA
Hadits tentang puasa tanggal 10 dan 11 Muharram
حدثنا عبد الله حدثني أبي قال هشيم أنا بن أبي ليلى عن داود بن على عن أبيه عن جده بن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : صوموا يوم عاشوراء وخالفوا فيه اليهود وصوموا قبله يوما أو بعده يوما
Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Puasalah kalian pada hari ‘Asyura’ dan selisihilah kaum Yahudi. Puasalah sehari sebelum atau sehari sesudahnya”. [HR. Ahmad juz 1, hal. 518, no. 2154]
حدثنا محمد بن يحيى حدثنا مسدد حدثنا هشيم أخبرنا ابن أبي ليلى عن داود بن علي عن أبيه عن جده ابن عباس قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : صوموا يوم عاشوراء و خالفوا اليهود صوموا قبله يوما أو بعده يوما

قال الألباني : إسناده ضعيف لسوء حفظ ابن أبي ليلى وخالفه عطاء وغيره فرواه عن ابن عباس موقوفا وسنده صحيح عند الطحاوي والبيهقي 
Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Berpuasalah kalian pada hari ‘Asyura dan selisihilah kaum Yahudi, puasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya”. [HR. Ibnu Khuzaimah juz 3, hal. 290, no. 2095]
Keterangan :
Hadits riwayat Ahmad dan Ibnu Khuzaimah di atas dla’if, karena dalam sanadnya ada perawi bernama Ibnu Abi Laila, ia jelek hafalannya.
Ibnu Abi Laila, namanya adalah Muhammad bin’Abdur Rahman, bin Abi Laila Al-Anshariy.
Yahya bin Sa’id mendla’ifkannya. Ahmad bin Hanbal berkata, “Ia buruk hafalannya, mudltharibul hadiits. Ibnu Hibban berkata, “Ia buruk, banyak kelirunya dan buruk hafalannya, banyak meriwayatkan hadits-hadits munkar.
[Lihat Tahdzibut Tahdzib juz 9, hal. 268, no. 503]

Komentar Penulis:
Dengan bahasa kritik yang “halus”, MTA mengeritik tradisi puasa yang dijalankan oleh kalangan Nadhliyin melalui pendekatan hadis. Mereka mengutip dua hadis di atas yang kemudian mencantumkan kajian kritik sanadnya dengan mengutip Tahdzib al-Tahdzib karya Ibn Hajar al-Asqalani. Perawi yang dikritik mereka adalah Muhammad Ibn Abi Layla. Penulis mencoba mengeritik kritik mereka terhadap “tradisi” puasa muharram yang biasa dilakukan oleh orang Nahdliyin.

Pertama, Anggap saja benar bahwa kedua hadis di atas berstatus dhaif, karena salah satu periwayatnya, Ibn Abu Layla, adalah orang yang hafalannya buruk. Lantas apakah dengan kedhaifan sebuah hadis kita dilarang mengamalkannya? Bukankah dalam ranah Fadhâil A’mal, mayoritas para ulama membolehkan mengamalkan hadis dhaif?[i]

Kedua, hadis-hadis tentang kesunahan puasa bulan muharram (syura), tidak hanya dua hadis tersebut. Ada banyak hadis shahih pendukung tentang kesunahan melakukan puasa tanggal 10 dan 11 Muharram. Sebagai misal, hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim
وحدثنا أبو بكر بن أبي شيبة وأبو كريب قالا حدثنا وكيع عن ابن أبي ذئب عن القاسم بن عباس عن عبدالله ابن عمير ( لعله قال عن عبدالله بن عباس رضي الله عنهما ) قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم
 : لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع وفي رواية أبي بكر قال يعني يوم عاشوراء[ii]
Hadis senada juga diriwayatkan oleh Ibn Majah, Ahmad bin Hanbal, dan Ibn Abd Bar.[iii]
Statemen penulis di atas dikukuhkan dengan komentar Ibn Hajar al-Asqâlanî dalam master piecenya, Fath Bârî, di mana ia menjelaskan panjang lebar tentang puasa Muharra. Sebuah judul bab yang diberikan oleh al-Bukhârî dalam Shahîhnya. Ia menyatakan:
“Bab (hukum melakukan) Shiyâm ‘Asyûra’‘Asyûra’-dengan dibaca panjang (ra’-nya) menurut pendapat yang masyhur dan menurut sebagian pendapat dibaca pendek- menurut Ibn Duraid adalah sebuah nama Islami yang tidak dikenal sebelumnya (pada zaman Jahiliyyah), sementara Ibn Dihyah menolak pendapat Ibn Duraid dengan mengatakan bahwa term ‘Asyûra’ sudah ada pada zaman Jahiliyyah dan bahwasanya Aisyah ra. Pernah mengemukakan bahwa mereka melakukan puasa pada bulan tersebut. Kendatipun demikian, pendapat kedua belum secara jelas menolak dan meruntuhkan pendapat pertama. Para ulama berbeda pendapat mengenai maksud dari puasa ‘Asyûra’. Mayoritas dari mereka berpendapat bahwa yang dimaksud puasa ‘Asyûra’ adalah puasa di hari kesepuluh bulan Syura (Muharram). Al-Qurthûbî mengatakan bahwa term ‘Asyûra’ merupakan derivasi atau pindahan (ûdul) dari kata ‘Âsyirah. Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ‘Asyûra’ adalah hari kesembilan bulan muharram. Akan tetapi saya (Ibn Hajar) berpendapat bahwa kemungkinan yang tepat adalah pendapat yang pertama, hal ini dikokohkan dengan riwayat dari Imam Muslim melalui jalur Ibn Abbâs bahwasanya Nabi Muhammad bersabda, “Seandainya tahun depan saya masih hidup, niscaya saya akan melakukan puasa pada tanggal sembilan (muharram)” kemudia beliau meninggal sebelum bulan tersebut.Dari hadis tersebut tampak jelas bahwa sebelumnya Nabi telah berpuasa pada tanggal sepuluh, kemudian beliau berkeinginan untuk puasa pada tanggal sembilannya, lalu beliau meninggal sebelum melakukannya.Sebagian sarjana muslim berpendapat bahwa maksud sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim “Seandainya tahun depan saya masih diberi kehidupan, maka saya akan berpuasa pada tanggal sembilan” memiliki dua kemungkinan. Pertama, memindah kesunahan puasa pada tanggal sepuluh ke tanggal sembilang Muharram. Kedua, menyandarkannya kepada tanggal sepuluh. Kemudian setelah beliau wafat dan sebelum ditemukannya kejelasan tentang maksud dari sabda Nabi di atas, maka yang lebih hati-hati adalah puasa pada kedua hari tersebut.Kesimpulannya, puasa‘Asyûra’ memiliki tiga tingkatan: pertama,tingkatan terendah adalah puasa tanggal sepuluh, kemudian tingkatan di atasnya adalah puasa tanggal sepuluh dan sembilan, dan di atasnya lagi (tingkat tertinggi) adalah puasa pada tanggal sepuluh dan sebelum dan sesudahnya (sembilan, sepuluh, dan sebelas Muharram). Kemudian penulis matan (al-Bukhârî) dalam hal ini lebih dulu memaparkan hadis-hadis yang menunjukkan bahwa puasa ‘Asyûra’ bukanlah sebuah kewajiban, kemudian selanjutnya menuliskan hadis-hadis yang menunjukkan anjuran (kesunahan) puasa di bulan Muharram.[iv]      

Dari paparan di atas, nampak begitu jelas bahwa apa yang dituduhkan oleh MTA tentang dalil dari puasa‘Asyûra’ adalah dhaif tidaklah berdasar. Karena mereka hanya berkutat pada kajian dua hadis, tidak mengkomparatifkan dengan hadis-hadis lainnya. Mengutip al-Ghazali dalam mengeritik orang-orang yang menolak tafsir isyari “mereka benar dan sedang mengakui keterbatasan pemahaman mereka.”
Wallahu A’lam bi Shawab

[i] Mengenai pengamalan hadis dhaif beserta penjelasan tentang syarat-syarat pengamalannya rujuk kitab-kitab Ulum Hadis konvesional seperti: Al-Suyûthî dalam Tadrîb al-Râwî, Mahmud Thahan dalamTaysîr Musthalâh Hadîts

[ii] Muslim bin Hajjâj, Shahîh Muslim, Bab Ayyu Yawm Yushâmu Fi Asyûrâ’, Beirut: Dâr Ihyâ’ Turâts al-Arabî, tt. Vol. 2, h.797. I

[iii] Muhammad al-Qazwaynî, Sunan Ibn Mâjah, Bab Shiyâm Yawm Asyûrâ’, Beirut: Dâr Fikr, tt. Vol.1, h.552
Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, Bab Musnad Abdullah bin Abbâs, Kairo: Muassasah Qurthubah, tt. Vol.1, h.224 dan
Abdullah bin Abd al-Bar, At-Tamhîd, Maghrib: Wuzarah ‘Umûm al-Awqâf wa al-Syu’ûn al-Islâmiyyah, 2002, vol.7, h.214

[iv] Ibn Hajar al-Asqalânî, Fath al-Bârî, Beirut : Dâr Ma’rifah, 1999. Vol,4, h.245

Share this article :
 

+ komentar + 22 komentar

Rabu, April 04, 2012 9:50:00 AM

MTA harusnya lebih arif. jangan sindir2 tradisi.

Sabtu, Agustus 11, 2012 12:34:00 AM

Subhanallah,
Saya bukan ahli agama atau lulusan program studi agama, saya tidak ahli soal menentukan ke sahih an sebuah hadist,

janganlah kita mengutamakan nafsu dalam menuntut ilmu, marilah kita utamakan Iman
Berbeda soal pandangan tafsir itu tidak perlu dibesar besarkan,
Tetapi mari kita bersama satukan langkah amal mahruf, nahi mungkar ...
quran dan Rosul kita semua sama, tidak perlu saling menyudutkan ...

Mari pemuda Merah Putih kita tebarkan semangat Amal Mahruf Nahi mungkar,
Agar pemuda pemuda merah putih selalu dekat dengan Allah SWT dan bermental kuat seperti Nabi Muhammad SAW dan Para Sahabat.
Amin ...
Pemuda Islam Bersatu, murnikan syariat Islam, kita Kibarkan Merah Putih yang bersih dan Beriman :)

Rabu, Agustus 29, 2012 12:23:00 AM


saya bukan orang MTA atau ahli agama hanya pembaca Website, menurut saya apa yang di lalukan MTA benar mereka hanya menunjukan hadistnya, jika memang hadist yang di rujuk kurang lengkap, silahkan di lengkapi atau ikut ngaji sekalian, jangan kemudian meyudutkan, kalau saya baca, MTA juga tidak melarang orang melakukan ibadah tersebut, MTA hanya menunjukan Hadist yang mereka ketahui.Bukan mejelekkan umat muslim lain yg menafsirkan berbeda.

Kamis, September 20, 2012 6:20:00 AM

To Darie:
MTA melakukan kritik terhadap sebuah ibadah dengan menunjukkan 2 hadis yang dhaif sebagai dalilnya. Padahal, masih ada hadis lain di Shahih Muslim yang jelas shahih.
Dengan demikian, kualitas hadis dhaif itu terangkat nilainya sebagai hadis hasan (bisa diterima sebagai dalil) karena ada riwayat lain yang shahih.

Itulah kesalahan MTA.

Rabu, November 07, 2012 3:17:00 PM

Assalam...
setahu saya sih ga ada biaya ditekankan pada jamaah atau yang ikut ngaji di MTA, justru mereka menerapkan bahwa ngaji itu ga bayar... sekolah juga, pengajian menyampaikan ilmu itu ibadah jadi mereka tidak ada sistem untuk membayar apalagi mebangun gedung...
kemudian menanggapi masalah puasa itu ya jangan dibesarkan masih banyak external Muslim yg jelas musuh muslim itu yg kita pikirkan... bkan menjelekkan atau menyudutkan sesama muslim, tetapi saya yakin hanya segelintir orang yg mungkin belum paham atau masih belum tahu, dikampung saya pemudanya dan orang2nya rukun semua bahkan Pemuda Muhammdiyahatau pengajian yg dilakukan oleh Muhammadiyah ada, NU juga ada MTA juga, tetapi mereka ikut ngaji bareng dan kita ambil mana yang belum tau kita gunakan.... tetapi tidak dipungkiri tradisi lama seperti reog yang harus memanggil jin * katanya cos saya belum dan tidak paham mengenai reog....tetep juga dilakukan namun kita semua rukun,.....
Persatuan ndonesia.. :)

Senin, November 12, 2012 12:30:00 PM

Memang dalam kajian MTA dicantumkan dua hadits itu, tapi saya yakin anda MUNGKIN tidak membaca hadits-hadits selanjutnya, yang menerangkan tentang puasa bulan Muharrom, yang mana hadits-hadits itu juga shahih. Sebaiknya sebelum anda membuat tulisan ini, anda baca dulu artikel dari MTA itu dengan tuntas sampai selesai, jangan hanya comot sana comot sini, hal inilah yang akan menyesatkan ummat.Dan satu lagi MTA tidak pernah melarang seseorang untuk melakukan apa yang diyakininya.

Senin, April 01, 2013 6:21:00 AM

Jangan menyudutkan mta, mta hanya menunjukkan hadist nya. Kalau anda tahu lebih tlg dilengkapi jgn dihujat.. harusnya ands menyudutkan orang yg mengaku islam tp tdk sholat... mta jg saudara qt sama sama orang islam

Jumat, April 05, 2013 9:48:00 AM

Kepada saudara-saudaraku se-iman...
Saya tidak membela suatu kelompok manapun tetapi yang sayasampaikan semata hanya untuk persaudaraan sesama muslim.
Karena penyebab perpecahan itu sebenarnya adalah dari dirikita sendiri yang salah dalam memahami ada yang diANGGAP berbeda.

Sebaiknya kita muenyikapi sesuatu dengan akal yang sehat dan hati yang terang.

Dalam hal ini janganlah MERASA MUDAH TERSINGGUNG terhadap sesuatu yang tidak jelas/ gamblang/ langsung menuju kepada suatu kelompok/ individu karena bisa jadi KAJIAN yang disampaikan itu sebagai pengetahuan setidaknya memang ada hal yang seperti itu.

Yang perlu diINGAT adalah kesalahan bukan pada sistem, kelompok, atau apapun yang wujudnya hanyalah kebendaan yang tidak punya AKAL.
Jadi kesalahan itu dari INDIVIDU sendiri yang telah di beri AKAL tetapi tidak digunakan untuk kebaikan....

Jadi marilah adanya PERBEDAAN PEMAHAMAN tentang sesuatu tidak menjadi PERPECAHAN atau PERMUSUHAN... tetapi jadikanlah itu sebagai PENCERAHAN KEILMUAN yang membawa TOLERANSI kita untuk lebih erat dalam UKHUWAH ISLAMIYAH.

Kamis, Mei 23, 2013 1:40:00 PM

hampir semua pangkal perbedaan disebabkan perbedaan cara dan kemampuan setiap orang untuk memahami teks atau pun dalil2 agama. baik Alquran ataupun Hadis. Andaikan semua orang bebas dan boleh untuk menafsirkan dalil2 itu maka akan terbentuklah firqoh sebanyak jumlah jumlah pemeluknya. dogma agama lebih membutuhkan keyakinan daripada akal. bukan sebaliknya atau kita akan terseret pada perdebatan tak berujung.

Sabtu, Juni 01, 2013 2:04:00 PM

Assalamu 'alaikum wr wb...
Saudara2ku... saya sudah membaca tentang brosur MTA tersebut, dan tidak ada yang salah di sana... saya yakin MTA tidak menyindir atau mengkritik apapun tentang tradisi apapu... MTA hanya menyuguhkan hadits dan kehati2an dalam beribadah sunnah... sebab sunnah itu kalau dikerjakan berpahala tetapi kalau tidak dikerjakan tidak mengapa...
Oleh karena itu mari kita sama2 Istighfar... jangan saling menuding satu dengan yang lain, kalau kita ragu tentang sesuatu mestinya kita tabayun dan kalau kita merasa perlu pelurusan dalam sebuah kupasan ilmu, mestinya kita sampaikan secara 'arif (syukur secara langsung kepada sumbernya) tanpa menimbulkan potensi memecah persatuan...
Sesungguhnya yang membuat lemah islam bukan dari golongan non muslim, tetapi karena perselisihan diantara kaum muslimin sendiri... maka mari kita jaga Ukhuwah Islamiyah dan jangan merusak persatuan hanya karena prasangka negatif... (islam is my way)

Minggu, Juli 07, 2013 2:40:00 PM

Kacau balau.

Senin, September 16, 2013 11:54:00 AM

Saudara/ri sekalian...jika kita merasa masih kurang dalam mendalami ilmu.kita tingkatkan belajar dan mencari ilmu .karena orang yang punya ilmu hanya setengah setngah semua akan jadi kacau.dan jika memang belum bisa menyampaikan .atau berda'wah ya jangan breda'wah..jadi ga kacau balau...penulis hanya menyampaikan bukan menghujat atau menyudutkan..maka dari itu saudara/ri ..kita jangan merasa pintar...

Senin, September 16, 2013 12:45:00 PM

daripada begini sebaiknya anda dantang langsung ke gedung pengajian,,apakan anda berani untuk meluruskan

Senin, September 16, 2013 12:45:00 PM

daripada begini sebaiknya anda dantang langsung ke gedung pengajian,,apakan anda berani untuk meluruskan

Senin, September 16, 2013 3:44:00 PM

Maaf sadara2, saling menghujat ataupun menghina itu termasuk kelemahan kita sebagai orang Muslim. Mari kita jangan berdasarkan katanya-katanya. Semua Kelompok agama di Indonesia ini jelas tempatnya dan jelas ketuanya. Kalau ada yg diragukan , datangi aja, di situ bisa tanya, atau bisa juga meluruskan. Lihatlah Mesir dan Suriah mereka porak poranda penyebabnya adalah diadu domba.

Jumat, Oktober 04, 2013 2:10:00 PM

kepada MTA, Lanjutkan dakwahmu....maju terus....

Sabtu, Oktober 26, 2013 11:56:00 PM

menganggap kelompok sendiri yg paling benarlah yg membuat saya meninggalkan ajaran 'agama'nu

Senin, Oktober 28, 2013 9:26:00 PM

Saya amati koq banyak ya yg menyalahkan, menghujat, merasa ajaran/ kyai/ guru, ajarannya di salahkan/ dihina, dll oleh MTA, Saya rasa pendapat2 tersebut apalagi yg terkesan emosional mohon dipikirkan kembali, apa lagi sesama umat muslim, lha beda agama aja kita bisa damai dan kadang malah lebih menjaga, dr brosur beberapa yang saya download saya rasa ndak ada yg menghina ormas/ klp lain, kalau perbedaan pendapat itu biasa, kalau dikajian MTA yang pernah saya dengar di radio atau brosur misal ada perbedaan MTA ndak pernah hujat, hina, atau seperti yang ditulis pengkritik/ komentator di internet maupun buku yg kebanyakan diterbitkan oleh salah satu ormas Islam.

Memang dalam artikel diatas kritiknya tidak begitu, tp kok saya rasa juga mengedepankan dulu emosionalnya dr pada hati dan pikiran yang jernih. Padahal dalam brosur diatas MTA dalam menyikapi perbedaan dasar dalam menentukan puasa ndak ada kata2 kasar/menyakiti. Lha yang mengkritisi malah ada kata2 "... yang dituduhkan oleh MTA tentang dalil...." silahkan komentator sendiri yang menilai.

CARILAH PERSAMAAN DALAM BERBAGAI PERBEDAAN, ISLAM ITU RAMAH, DAMAI, DAN RAHMAT UNTUK SEMUANYA..........kata Alm. Gus Dur, gitu aja koq repot !

Rabu, Oktober 30, 2013 5:03:00 AM

Apa yg disampaikan MTA berdasarkan Hadist yg ada

Selasa, Februari 11, 2014 2:26:00 AM

sekarang siapa yang arif. senjata makan tuan kan??

Kamis, Februari 27, 2014 12:52:00 AM

Assalamualaikum wr.wb. Saudara2ku, Jangan jadikan perbedaan menjadi perusak iman. Insya ALLAH saya sudah banyak meneliti dan membuktikan tentang MTA baik secara datang langsung, membaca artikel2nya, mendengarkan siaran2 radionya, melihat tayangan2 TVnya dan mengumpulkan rekaman video2nya. Dari bukti2 tersebut nyata2 MTA hanya mengajarkan kebenaran menurut Quran dan Hadist nabi.
Tak ada satupun bukti ditemukan bahwa MTA menghina fihak lain, justru sebaliknya MTA selalu arif dan obyektif dalam mensikapi segala hinaan dan fitnah2 dari orang yang sebenarnya belum tahu sama sekali tentang apa itu MTA dan apa isi MTA.
Saudara2ku (siapapun anda), Anda akan selamat dunia akhirat bila sebelum membuat komentar tentang MTA, lakukan tabayun (cek and ricek) untuk menemukan bukti2 nyatanya.

Rabu, Maret 05, 2014 9:39:00 PM

Yang Allah kehendaki besar ya tetap besar. Yang Allah kehendaki kecil ya tetap kecil. Monggo yang MTA terus ngaji. Saya yang NU juga tetep ngaji. Yang penting jangan ikut2an ngebom, nembak'i polisi, nggawe geger...Nek pengin seperti orang arab ya sana tinggal di arab. Yang ingin menjadi orang Indonesia yang memeluk Islam ya bukalah mata, hati dan pikiran. Bersyukur karena Allah menganugerahi Indonesia dengan berbagai keragaman. Jangan membuat rusak.

Poskan Komentar

Silahkan tulis

Bacaan Populer

 
Didukung : Salafiyyah Fans Page | PISS-KTB | Group Alumni
Copyright © 2006. Pesantren As-Salafiyyah - Boleh dicopy asal mencantumkan URL dokumen
Template Modified by info@as-salafiyyah.com | Published by BoloplekCD
Proudly powered by ePUSTAKA ISLAMI