HUBUNGAN DIALEK-GENEALOGIS NU DAN PESANTREN; SEBUAH SIMBIOSIS MUTUALISME


Oleh: Mamang M. Haerudin*)

Pendahuluan
Berbicara pergumulan dunia Keislaman dan pendidikan di Indonesia, tidak sedap jika tidak menggubris kontribusi NU dan pesantren. Sebab, kedua institusi ini hampir-hampir tidak dapat dipisahkan keberadaannya. Meskipun keberadaan pesantren jauh lebih dahulu terlahir di bumi nusantara ini, akan tetapi sekali lagi, hubungan NU dan pesantren ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat terpisah.

Pendidikan pesantren yang lahir atas ghirahnnya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, telah menjadi lumbung tersendiri bagi keberadaan NU hingga saat ini. Sebagaimana sejarah mencatat, NU lahir atas jerih payah orang-orang pesantren atau sering dikonotasikan, sebagai hasil keringat “kalangan sarungan” yang memang begitu menghayati makna Indonesia dan Islam.

Bermula dari pembabakan lahan kosong seorang ulama (Kiai)—yang jauh dari keramaian—, seketika itu pesantren muncul di bumi nusantara ini. Bahkan tidak jarang para sejarawan menyatakan bahwa pembabakan lahan kosong yang dilakukan seorang ulama tersebut adalah selain merupakan antisipasi dari kekejaman dan diskriminasi penjajah saat itu, juga agar proses pengajaran (pendidikan) yang terjadi dalam pesantren dapat ditransformasikan dengan efektif. Oleh karena itu (sekali lagi) biasanya, letak pesantren (khususnya di Jawa) cukup jauh dari keramaian.

NU sebagai organisasi kemasyarakatan berbasis komunitas pesantren, sepak terjang keberadaannya tidak bisa terlepas dari perjalanan pesantren itu sendiri. Sebagai ilustrasi, misalkan, dua tokoh paling berpengaruh di NU; KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Hasbullah, adalah dua tokoh pengasuh pesantren. Pun hingga sekarang PBNU di era Prof. Dr. KH. Said Aqiel Siradj, MA adalah seorang Kiai-intelek jebolan pesantren. Sampailah, bahwa hubungan simbisosis mutualisme NU dan pesantren begitu erat dan melekat.
Bertolak dari tendensi diatas, makalah sederhana ini akan mencoba mengulas persoalan NU dan pergumulan pendidikan pesantren dari awal ia bermula hingga saat ini. Oleh karena itu, beberapa pertanyaan yang patut dikemukakan dibawah ini saya anggap dapat memberikan alur dalam membaca makalah ini. Adalah sebagai berikut:
  1. Bagaimana keberadaan (pendidikan) pesantren dulu hingga sekarang?
  2. Bagaimana keberadaan NU dulu hingga sekarang?
  3. Bagaimana hubungan simbiosis mutualisme NU dan pendidikan pesantren dalam membangun karakter bangsa?

Genealogi NU dan Pesantren
Kalau dirunut dari historisitasnya, NU lahir bertepatan dengan tanggal 31 Januari 1926, hingga sekarang menginjak awal tahun 2012, NU tetap survive dan terus berkembang di bumi nusantara. Dua tokoh kharismatik yang menjadi “dalang” pendirian NU yaitu KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Hasbullah telah berhasil mewujudkan cita-citanya dalam mendakwahkan Islam moderat untuk kebangkitan karakter bangsa, terbukti, jika hingga kini di tengah peradaban global sekalipun, NU masih bertahan dan mengakar kuat.

Dalam melihat perjalanan NU di Indonesia, A. Muhaimin Iskandar berpendapat bahwa dinamika internal yang mewarnai perjalanan NU selama ini tidak bisa dilepaskan dari dua hal. Pertama, NU pada hakikatnya merupakan pelembagaan dari tradisi Islam yang sudah ratusan tahun hidup dan berkembang di nusantara. Kedua, kelahiran NU tidak dapat dipisahkan dari kelahiran Nahdlatul Wathanyang berdiri pada tahun 1914, Nahdlatut Tujjar (1918) dan Tashwirul Afkar (1918) yang juga didirikan oleh para ulama pendiri NU. Nahdlatul Wathan  yang artinya kebangkitan bangsa atau tanah air merupakan organisasi pendidikan dan dakwah untuk menyediakan sumber daya manusia yang berwatak religius dan nasionalis. (A. Muhamin Iskandar, 2009; 150-151).

Meskipun demikian, sebagai orgnisasi yang terus bergerak, fluktuasi antara kelesuan dan kebangkitan tetap tidak dapat terhindarkan, mulai ketika NU berfusi dengan partai politik hingga “bercerai” dan memilih kembali ke khithah adalah fluktuasi yang begitu banyak memberikan pelajaran bagi kedewasaan NU sebagai ormas terbesar di Indonesia.

Namun demikian, satu benang merah yang dapat kita ambil hikmahnya adalah kontribusi berharga NU dalam mengembangkan tradisi dan Islamnya yang moderat. Dari era KH. Hasyim Asy’ari, KH. Abdurrahman Wahid, hingga sekarang PBNU yang dinahkodai KH. Said Aiel Siradj, tetap teguh dalam mengampanyekan Islam moderat ala Indonesia, yang besikukuh pada empat pilar kebangsaan; Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. Dan kebulatan tekad mengukuhkan empat pilar kebangsaan ini adalah salah satu keputusan Muktamar NU di Makasar di awal-awal tahun 2012 silam.

Berbicara NU tak ubahnya membicarakan pesantren, sebagaimana dimuka saya utarakan, lahirnya NU tidak dapat dipisahkan dari pergumulan pesantren. NU lahir karena pesantren, segala apapun yang ada dalam tubuh NU adalah segala apapun yang ada dalam tubuh (pendidikan) pesantren, ini terbukti jika sejak kelahirannya NU diprakarsai oleh tokoh (Kiai) dari pesantren yakni KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Hasbullah.

Banyak hal menarik jika kita berbincang soal pesantren. Saking menariknya Cak Nur—sapaan akrab Nurcholish Madjid—menyebut pesantren sebagai lembaga pendidikan ter-genuine dan mengandung makna Keindonesiaan (indigenous). Cak Nur menyatakan:
“Pesantren atau pondok adalah lembaga yang bisa dikatakan merupakan wujud proses wajar perkembangan sistem pendidikan nasional. Pesantren tidak hanya identik dengan keislaman, melainkan juga mengandung makna keaslian Indonesia (indigenous)”. (Nurcholish Madjid, 1997; 3).
Bahkan, Gus Dur—sapaan akrab KH. Abdurahman Wahid—menegaskan bahwa khazanah yang ada dalam pesantren merupakan sub kultur dari pada Islam itu sendiri. Inilah yang menurut saya mengapa pendidikan pesantren tetap survive hingga saat ini, bahkan di tengah gempita globalisasi sekalipun.
Ditinjau dari sudut sejarahnya, sebagaimana dikemukakan oleh Hasbullah (1995: 138) bahwa Pesantren yang merupakan “Bapak” dari pendidikan Islam di Indonesia, didirikan karena adanya tuntutan dan kebutuhan zaman, sesungguhnya pesantren dilahirkan atas kesadaran kewajiban dakwah Islamiyah, yakni menyebarkan dan mengembangkan ajaran Islam, sekaligus mencetak kader-kader ulama atau da’i.
Marwan Saridjo (1982: 7) mengemukakan bahwa kedudukan pondok pesantren hampir-hampir tidak dapat dipisahkan dari kehidupan umat Islam. Ia lahir semenjak Islam singgah ke nusantara sehingga pertumbuhannya tidak dapat terpisahkan dari sejarah pertumbuhan masyarakat Indonesia.
Sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia, resistensi pesantren terhadap segala perubahan zaman telah membuktikan keberadaannya hingga ia masih mengakar kuat dan semakin menjamur diberbagai pelosok negeri ini.
Corak tersendiri dari kehidupan pesantren dapat dilihat juga dari struktur pengajaran yang diberikan dari sistematika pengajaran, dijumpai jenjang pelajaran yang berulang-ulang dari tingkat ke tingkat tanpa terlihat kesudahannya. Struktur pengajaran yang unik dan memiliki khas ini tentu saja juga menghasilkan pandangan hidup dan aspirasi yang khas pula. (Abdurrahman Wahid, 2010: 7).
Dari berbagai keontetikan dan kebertahanan pesantren, KH. Said Aqiel Siradj berkesimpulan bahwa pesantren itu tidak terlepas dari al-mas’uliyah al-arba’ah (empat kapabilitas), yaitu pertama, mas’uliyah aldiniyah (religion capability) yang diimplementasikan dalam kiat pesantren untuk memperjuangkanda’wah Islamiyah yang nota bene dia berarti sebagai tumpuan harapan pemecahan semua masail al-diniyah. Kedua, al-mas’uliyah al-tsaqafiyah (educational capability) yang lebih meningkatkan kualitas pembelajaran dan pendidikan umat. Ketiga, al-mas’uliyyah al-amaliyyah (pratice capability) yang lebih mengutamakan pada realisasi hukum Islam/syariat dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan sosial-masyarakat. Keempat, al-mas’uliyyah al-qudwah (moral capability) yang lebih memusatkan pada perilaku akhlak al-karimah. (Said Aqil Siradj: 2007: 51).
Dari dua perjalanan yang hampir bergandengan dan bersamaan antara NU dan pesantren, saya mencoba berusaha melacak beberapa pokok pemikiran dan gerakan nyata dari dua institusi (NU dan pesantren) yang saya istilahkan sebagai hubungan “simbiosa mutualisma”.

Basis Kekuatan NU dan Pesantren
Adapun hasil “lacakan” saya tersebut bertumpu—sekurang-kurangnya—pada dua prinsip yang telah lama mengakar kuat dan dikembangkan NU dan pesantren, adalah sebagai berikut:

1. Kekuatan Tradisi
Ada sebuah adagium (yang sudah masyhur dikalangan pesantren) berbilang: “al-Muhafadhatu ‘ala qadimi al-Shalih wa al-Akhdzu bi al-Jadid al-Ashlah” (Menjaga tradisi yang masih relevan dan baik, dan mengambil tradisi modern (kontekstual) yang lebih baik) atau juga “Kaifa nataqaddam duuna annata khalla ‘an al-Turats”  (Bagaimana kita bisa maju tanpa membngkar tradisi).
Sebagai salah seorang yang masih mengenyam pendidikan kesantrian, saat itu pula saya merasakan betapa berharganya dapat merasakan “gemblengan” pendidikan ala pesantren. Di pesantren tidak hanya diajarkan tentang tradisi atau budaya yang bersifat materi belaka (seperti warisan budaya, kesenian, kerajinan, dll), melainkan pula diajarkan betapa berharganya khazanah “emas” klasik atau yang biasa dikenal dengan kitab kuning.

Sebagaimana pesantren, NU sebagai ormas yang mempunyai komitmen dalam membangun pandangannya diatas dunia tradisi Islam dan masyarakat yang ada, mempunyai tugas dalam menjaga tradisi-tradisi tersebut pula.

Dalam pada itu, A. Muhaimin Iskandar dalam salah satu kolomnya yang berjudul “NU dan Transformasi Bangsa” (2009) memberikan dua pola penjagaan tradisi dalam tubuh NU. Adalah pertama, khazanah Islam masa lampau (legacy ot the past). Dalam tradisi NU, kebesaran khazanah peradaban Islam itu dilembagakan dalam kitab-kitab fiqih, geraka tareqat dan dialog terus-menerus dengan realitas dan tradisi masyarakat setempat.
Kedua, tradisi berfikir fiqih dalam kerangka pemikiran mazhab. NU di kenal sebagai oraganisasi keagamaan secara fiqih berpegang pada salah satu mazhab empat; Hanafi, Maliki, asy-Syafi’i, dan Hanbali. Disamping itu NU juga merujuk pada Imam Abu Hamid al-Ghazali dan Junaid al-Baghdadi dalam tarekatnya, serta serta kepada Abu Hasan al-sy’ari dan Abu Mansur al-Maturidi dalam pemikiran tauhid atau teologinya.

Ya, inilah saya rasa basis dari kebertahanan NU dan pendidikan pesantren dalam mengukuhkan eksistensinya sebagai dua institusi yang berkomitmen untuk menjaga tradisi-tradisi yang dimiliki bangsa Indonesia. Keduanya saling memengaruhi dalam jalinan yang saling menguntungkan; “simbiosis mutualisme”.

2. Pembentukan Karakter Bangsa
Ini adalah bentuk penegasan bahwa NU dan pendidikan pesantren tidak “menolak” modernitas. Stempel “tradisionalis-ortodoks” yang telah lama disematkan pada NU dan pesantren, kini terbantah sudah. Bahwa justru NU dan pesantren adalah gembong utama dalam menyongsong modernitas untuk kemajuan dan pembentukan karakter bangsa.
Basis dari komitmen NU dan pendidikan pesantren dalam mengemban amanat founding father’s dalam menjaga keluhuran nilai-nilai empat pilar kebangsaan yang diwujudkan—apa yang diklasifikasikan dengan tiga konsep pembentukan karakter—oleh pesantren sebagaimana dirumuskan oleh KH. Said Aqiel Siradj dibawah ini.

Pertamatamaddun yaitu memajukan pesantren. Lebih lanjut Kang Said berpendapat, masih banyak pesantren yang dikelola secara sederhana. Manajemen dan administrasinya masih bersifat kekeluargaan dan semuanya ditangani oleh sang Kiai. Tak pelak, pesantren harus berbenah diri. Hal ini bukan berarti menyatakan bahwa belum ada pesantren yang professional. Sebagaimana pesantren yang sederhana, pesantren yang sudah maju pun harus senantiasa melakukan terus inovasi agar pesantren tidak beku melainkan terus dinamis.

Keduatsaqafah, yaitu bagaimana memberikan pencerahan kepada umat Islam, agar kreatif dan produktif, dengan tidak meninggalkan orsinilitas ajaran Islam. Contoh pesantren di Pasuruan, sudah bisa memanfaatkan produk-produk modern seperti pembelajaran berbasis komputer, memiliki badan usaha sendiri yang sukses, aset yang besar, dan Kiainya tidak ikut campur tangan. Tradisi dan keunikan seperti tetap memakai sarung, mencium tangan Kiai, dan seterusnya masih pula dilestarikan sebagai bentuk menjaga tradisi lama yang baik.
Ketiga, hadlarah, yaitu membangun budaya. Menurut Kang Said, dalam hal ini, bagaimana budaya kita dapat diwarnai oleh jiwa dan tradisi Islam. Dan dalam pandang penulis, budaya yang termasuk untuk terus dilestarikan adalah budaya-budaya lokal seperti tahlil, haul, dan tidak kalah pentingnya adalah budaya tulis menulis serta membangun pemikiran progresif yang tentunya akan sangat berguna bagi keberadaan pesantren dalam setiap zamannya. (Said Aqiel Siradj, 2009; 119-120).

Dengan demikian, konsep pembentukan karakter bangsa yang digagas NU dan pesantren (dengan segala keunikannya) merupakan “simbiosis mutualisme” dua institusi dalam menebar khazanah Islam yang tak ternilai harganya. Segala upaya dalam iqamat al-ma’ruf, nahi al-munkar, dan tu’minuna billah, secara sinergis merupakan tugas dan fungsi pokok pesantren dalam membina para santrinya. Tentu kita semua berharap agar dengan pelbagai upaya ini konsep pembentukan karakter bangsa seperti apa yang dikembangkan NU dan pesantren dapat terwujud dan dapat diilhami oleh apapun dan siapaun individu dan lembaganya.

Kesimpulan
Dari penjelasan singkat dan sederhana diatas, dapat saya tarik beberapa benang merah bahwa:
1. NU dan (pendidikan) pesantren adalah dua institusi yang tidak dapat dipisahkan, kedua merupakan jantung satu sama lain yang saling memengaruhi, sehingga saya menyebutnya sebagai hubungan “simbiosis mutualisme”.
2. Sebagai komponen penting dalam tubuh bangsa Indonesia, NU dan pesantren mempunyai tekad bulat yang diwujudkan dengan komitmennya terhadap empat pilar kebangsaan (Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika).
3. Dua prinsip yang telah lama dibangun NU dan pesantren adalah kekuatan tradisi dan pembentukan karakter bangsa.

DAFTAR PUSTAKA

Aqiel, Said Siradj, 2007, Teks Pesantren tentang Pendidikan Kebangsaan. Jakarta: Jurnal EDUKASI DEPAG RI.
Aqiel, Said Siradj, 2009, Tasawuf Sebagai Kritik Sosial, Jakarta: Yayasan KHAS.
Hasbullah, 1995, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Raja Grafindo.
Iskandar, A. Muhaimin, 2009, Momentum untuk Bangkit: Percikan Pemikiran Ekonomi, Politik, dan Keagamaan, Yogyakarta: LKiS.
Madjid, Nurcholish, 1997, Bilik-bilik Pesantren: Sebuah Potret Perjalanan. Jakarta: Paramadina.
Saridjo, Marwan. Produk Pesantren di Indonesia. Jakarta: DEPAG. 1982.
Wahid, Abdurrahman, 2010 Menggerakkan Tradisi: Esai-esai Pesantren. Yogyakarta: LKis.
Share this article :
 

Poskan Komentar

Silahkan tulis

Bacaan Populer

 
Didukung : Salafiyyah Fans Page | PISS-KTB | Group Alumni
Copyright © 2006. Pesantren As-Salafiyyah - Boleh dicopy asal mencantumkan URL dokumen
Template Modified by info@as-salafiyyah.com | Published by BoloplekCD
Proudly powered by ePUSTAKA ISLAMI