Jurnalistik


Jurnalistik dapat memberikan dua manfaat besar bagi pesantren. Pertama, jurnalistik dan dunia tulis-menulis melatih pribadi intelektual yang kompeten, karena karir seorang santri juga ditentukan oleh tulisan-tulisan yang ia produksi.

Kedua, jurnalistik bisa mengangkat popularitas pesantren ke dunia luas. Popularitas adalah hal yang sangat penting bagi pesantren. Pesantren harus tetap menjalani perannya sebagai lembaga pendidikan Islam khas di Indonesia, dan pesantren harus bersaing dalam popularitas dengan lembaga-lembaga pendidikan lainnya.

Pesantren semestinya harus mampu menciptakan satu aliran jurnalistik tersendiri, sebutlah jurnalisme pesantren. Jika sebelumnya ada jurnalisme  publik, jurnalisme hitam, jurnalisme rakyat, dan sebagainya, sekarang waktunya satu aliran baru bernama jurnalisme pesantren.

Untuk mewujudkan eksistensi jurnalisme pesantren, usaha yang konsisten dan terus-menerus adalah suatu kemestian. Keluarga pesantren harus mengagendakan beberapa hal demi memulai langkah ini. Pertama, pesantren harus memperkenalkan dunia jurnalistik kepada santrinya. Pesantren harus mengadakan pelatihan atau workshop seputar jurnalistik. Selain itu, pesantren juga semestinya memiliki kelas menulis sebagai kegiatan ekstra. Santri dibiasakan untuk menulis, mulai dari hal yang paling kecil hingga yang paling besar yang mereka lihat, dengar, dan rasakan. Pada tingkat lanjutan, santri diperkenalkan dengan berbagai jenis tulisan dengan ciri khasnya masing-masing seperti berita, esai, opini, dan sebagainya.

Keterbiasaan santri untuk menulis perlu diakomodasi supaya mereka merasa kegiatan mereka ada hasilnya dan semangat mereka tidak pudar. Mulailah dengan majalah dinding (mading). Mading sepertinya bukan hal yang asing lagi bagi banyak pesantren. Akan tetapi, perlu ada peningkatan. Lanjutkan dengan media bulletin yang diterbitkan secara berkala. Bulletin bisa lebih merangsang kepekaan dan daya kritis santri untuk membaca dan menulis fenomena yang ia lalui.