Mengapa di Assalafiyyah


Mengapa mondok di Assalafiyyah?

  1. Pondok pesantren Assalafiyyah tidak hanya mengajarkan kecerdasan intelektual, tapi juga kecerdasan spiritual dan emosional.

Berbeda dengan sekolah umum, siswa di pondok pesantren tidak hanya diajarkan untuk mengejar kecerdasan intelektual (IQ). Pondok pesantren juga menekankan kematangan emosional dan spiritual (EQ & SQ). Selain matang secara logika, murid di pondok pesantren juga memiliki kecerdasan mengelola emosi dan kebutuhan batin.

 

  1. Tanpa meninggalkan pendidikan yang berwawasan internasional, pondok pesantren Assalafiyyah juga mengajarkan arti penting kearifan lokal.

Kitab kuning merupakan khazanah keilmuan yang sangat luas, dimana budaya dan peradaban bangsa lain dipelajari di dalamnya. Namun pesantren juga merumuskan kurikulum pendidikan lokal untuk merawat kebudayaan sendiri. Pondok pesantren biasanya didirikan dengan memperhatikan konteks budaya masyarakat setempat.

 

  1. Belajar di pesantren Assalafiyyah juga membuat ikatan kekeluargaan jadi lebih dalam. Rasa empati juga banyak ditempa di pesantren Assalafiyyah.

Jangan ragu terhadap ikatan kekeluargaan di pondok pesantren. Kehidupan bersama yang dijalani oleh para siswa, membuat mereka terbiasa untuk membangun atmosfer kekeluargaan dan mendidik rasa empati. Hal ini karena hubungan antar individu di pondok pesantren tidak hanya terjadi sewaktu pelajaran, tetapi juga kehidupan sehari-hari.

     4. Pondok pesantren Assalafiyyah menanamkan budaya menghormati guru (takrimul ustadz).

Meskipun semua institusi pendidikan mengajarkan hal serupa, namun pondok pesantren membawanya ke level yang lebih tinggi. Guru benar-benar dianggap sebagai orang yang menyampaikan ilmu. Tanpa guru, kehidupan manusia akan tersesat. Dan hanya di pondok pesantren, seorang guru benar-benar dihormati. Pesantren melalui kitab Ta’lim Muta’allim mengajarkan bahwa menghormati guru adalah bagian dari menghormati ilmu. Para santri dididik untuk mencium tangan guru (qublatu yadil ustadz) demi mendapatkan keberkahan ilmu.

 

5. Belajar di pondok pesantren Assalafiyyah membuat anak-anak lebih fokus untuk belajar.

Budaya dI pondok pesantren yang menjauhi kehidupan duniawi dan pengaruh dunia luar sangat memungkinkan santri lebih fokus untuk belajar.

 

    6. Dengan hidup di pesantren Assalafiyyah, anak bisa terbiasa hidup hemat. Tidak mengherankan, kerasnya hidup di masa depan jadi lebih gampang dihadapi. Assalafiyyah juga menerapkan sistem kupon uang saku sehingga santri terhindar dari pemborosan dan pencurian.

Santri di pondok pesantren biasanya menghindari hidup foya-foya. Jangankan mau foya-foya, bawa uang berlebihan saja mungkin langsung diambil pengawas pondok. Hidup hemat dan susah pun harus dijalani. Dan istimewanya, saat ada rejeki lebih, anak pondok pesantren akan dipaksa untuk berbagi dengan santri lain.

 

      7. Kerja keras adalah menu sehari-hari di pondok pesantren Assalafiyyah. Bukankah ini modal utama untuk menghadapi hidup?

Disiplin adalah menu rutin di pondok pesantren Assalafiyyah. Selain itu aktivitas fisiknya pun berbagai macam; olahraga, kerja bakti, pengabdian sosial dan lain-lain. Jangan bayangkan hidup di pondok pesantren Assalafiyyah cuma ngaji, sholat, tidur dan makan ya. Acaranya padat.

 

     8. Tempaan mental yang luar biasa membuat anak lebih matang dan jadi pribadi yang kuat.

Berpuasa, beribadah, kerja fisik, belajar adalah hal-hal yang dihadapi setiap hari. Konsistensi menghadapi aktivitas tersebut selama bertahun-tahun akan menempa mental menjadi seperti baja. Mereka dipaksa untuk tidak mudah putus asa, tidak gampang galau dan cengeng. Tidak heran, biasanya lulusan pondok pesantren punya kapasitas yang lebih besar untuk menjadi pemimpin.

 

     9. Saat bicara tentang Islam, ilmu santri pondok pesantren juga lebih mumpuni dan lebih bisa dipertanggungjawabkan.

Ilmu agama para santri lebih bisa dipertanggungjawabkan. Ilmu agama Islam yang mereka dapatkan juga lebih mumpuni. Dengan penguasaan bahasa Arab dan penguasaan terhadap khazanah keilmuaan Islam yang memiliki sanad dengan para ulama-ulama salaf shalih, para santri lebih dipercaya di masyarakat dibanding da’i-da’i instan produk didikan syaikh google.

 

     10. Santri terbiasa melihat dan menghargai perbedaan pendapat antar ulama di dalam kitab kuning. Santri juga menghargai keragaman budaya.

Perbedaan para ulama di dalam kitab kuning antar madzhab mengajarkan kepada para santri bahwa perbedaan adalah rahmat. Perbedaan seharusnya dilihat sebagai bentuk kekayaan yang saling melengkapi. Perbedaan tidak selayaknya menjadi sumber konflik dan kekerasan atas nama agama. Di sisi lain, santri dari berbagai daerah membawa budaya-budaya lokal masing-masing lalu melebur dan saling bertukar wawasan kebudayaan demi tujuan belajar bersama. Anak pondok pesantren akan belajar yang namanya ber-Bhinneka Tunggal Ika.

 

     11. Terjaga dari pengaruh buruk lingkungan bebas

Hal ini sudah pasti, anak yang tinggal di asrama atau pondok pesantren lingkungan belajarnya dibatasi dan ada skat-skat tertentu, bahkan dalam lingkungan itupun terkadang ada zona terlarang; terpisah antara komplek putra dan putri. ini adalah salah satu bukti bahwa lingkungan pondok pesantren itu terjaga dari pengaruh yang dapat merusak pola fikir para remaja. Pesantren adalah tempat yang paling aman dari pengaruh narkoba dan pergaulan bebas.

 

    12. Pembangunan Karakter

Bukan berarti di sekolah biasa tidak ada pembentukan karakter siswa, namun pada lingkungan pondok atau asrama pembangunan dan pembentukan karakter lebih cepat karena organisasi kependidikannya selalu ON, pembinaan terus menerus berjalan bukan hanya di dalam kelas tapi juga di luar kelas.

 

  1. Penanaman kemandirian dan kesederhanaan

Kemandirian dan kesederhanaan sangat terlihat di Pondok di Pesantren. Santri terbiasa mencuci pakaian sendiri dan mempersiapakan segala sesuatu dengan telaten sendiri. Santri sangat terlatih untuk hidup mandiri.

Kehidupan pesantren juga mengajarkan para santri hidup sederhana; makanan sederhana dan tidur dengan alas seadanya. Pesantren salaf mengajarkan pentingnya riyadhah atau tirakat, yakni hidup sederhana dengan menjauhi keinginan-keinginan yang berkaitan dengan pemuasan nafsu perut. Dengan tirakat, maka hati lebih tertempa dan bersih sehingga cahaya-cahaya ilmu pengetahuan dapat masuk ke jantung kalbu.

 

  1. Ibadah terjaga

Di lingkungan pondok pesantren shalat lima waktu dan ibadah sunnah lainnya berjalan dan terprogram dengan baik. Para santri dibina dan dididik untuk aktif berjamaah, puasa Senin-Kamis, dzikir bersama, dll.

 

  1. Kemampuan Membaca/Menghafal Al-Quran dengan tartil dan membaca kitab kuning/bahasa Arab dengan fasih

Mampu membaca dan menghafal Al-Quran dengan baik, benar dan tartil sesuai dengan makhraj dan tajwidnya yang meliputi panjang pendek bacaan, makharijul huruf Arab atau pronunciation, idgham, ikhfak, dan lain-lain adalah sangat penting. Oleh karena itu, pelatihan membaca dan menghafalkan Al-Quran dilakukan setiap hari setelah Maghrib yang dilakukan secara berkelompok dan setiap kelompok (halaqah) dibimbing oleh seorang ustadz yang terlatih.

Selain itu, para santri juga dididik agar mampu membaca kitab kuning dengan baik. Assalafiyyah terkenal sebagai pondok tua yang unggul dalam penguasaan kitab kuning hingga para santrinya sering menjuarai Musabaqah Tilawatil Kutub yang diselenggarakan oleh DEPAG. Kitab kuning yang dipelajari di Assalafiyyah meliputi bidang Tafsir Al-Quran, Ulum Al-Quran, Hadits, Ulum Hadits, Fiqh, Ushul Fiqh, Qaidah Fiqh, Tauhid, Tasawuf, Tarikh, Nahwu-Sharaf, Balaghah, Mantiq, Arudz, Falak, dll.

 

  1. PROGRAM TAKHASUS, MADRASI (SEKOLAH FORMAL MTS DAN MA), DAN MAHASISWA

Assalafiyyah memiliki program takhasus bagi santri yang hanya mondok saja dan juga program Madrasi bagi santri jenjang usia SMP/SMA. Semua santri jenjang ini wajib mengikuti pendidikan formal Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA), kecuali bagi mereka yang berusia di atas 20 tahun atau sudah lulus SLTA.

Pendidikan formal kami anggap penting karena ia menjadi prasyarat bagi setiap pelajar untuk dapat melanjutkan studi ke jenjang formal yang lebih tinggi yakni Sarjana (S1) dan Pascasarjana (S2 dan S3). Assalafiyyah berkomitmen mengirim lulusan-lulusannya ke perguruan tinggi terkemuka, baik di dalam maupun luar negeri.

 

  1. PEMISAHAN PUTRA PUTRI SECARA KETAT

Salah satu tujuan utama Assalafiyyah adalah mencetak santri berakhlak mulia. Standar minimal dari akhlak mulia adalah melaksanakan syariah Islam yang wajib dan halal dan menjauhi larangannya yang haram. Sebagai implementasi dari tujuan ini, hal pertama dan mendasar yang dilakukan adalah pemisahan santri putra dan putri secara ketat di segala lini aktivitas pendidikan.

 

  1. SISTEM SALAF DAN MODERN

Menjalankan dua sistem yang berbeda antara sistem salaf dan modern sekaligus tidaklah mudah. Namun, dengan kerja keras dan kedisiplinan yang tinggi, sistem ini berjalan dengan efektif dan efisien.

 

  1. PROGRAM TAHFIDZ

Tahfidz atau menghafal Al-Quran adalah program khusus yang bersifat opsional atau pilihan. Saat ini, menghafal Al-Quran semakin mendapat momentum di Indonesia. Para hafidz dan hafidzoh cilik atau remaja sering tampil di TV dan dilombakan. Sejumlah universitas pun menawarkan beasiswa penuh bagi hafidz dan hafidzah. Di Malang, ada dua universitas yakni UIN Maliki Malang dan Universitas Negeri Malang atau UM yang menawarkan beasiswa penuh bagi penghafal Al-Quran. Ini semakin memotivasi generasi muda untuk menjadi hafidz dan hafidzoh.

Assalafiyyah mentargetkan lulusan Tanawiyyh hafal 15 Juz dan lulusan Aliyah hafal 30 Juz. Pertahun santri madrasah yang mengambil program tahfidz dituntut menghafal 15 juz.  Sedangkan peserta program tahfidz dari santri takhasus ditarget hafal 30 juzz selama 3 tahun. Keberhasilan program ini telah mencapai angka 90% dimana setiap 2 tahun sekali Assalafiyyah menyelenggarakan acara wisuda puluhan hafidz/hafidzah Al-Quran.

 

  1. PROGRAM BAHASA ARAB

Program intensif Bahasa Arab adalah program opsional atau pilihan. Sama dengan program tahfidz. Jadi, santri boleh memilih untuk mengikuti program ini atau tidak. Bahkan, tidak semua peminat boleh mengikuti program ini. Akan ada seleksi terlebih dahulu untuk memastikan bahwa peminat memiliki kemampuan dasar yang diperlukan dan keinginan kuat untuk mengikutinya. Sebagaimana program tahfidz, tidak ada biaya tambahan untuk mengikuti program bahasa Arab ini.

 

  1. BIAYA MURAH, MASUK MUDAH DAN FASILITAS MEMADAI

Seiring maraknya kapitalisasi pendidikan di sejumlah lembaga pendidikan dimana pendidikan hanya menjadi kedok mencari keuntungan materi, Assalafiyyah tetap konsisten sebagai lembaga yang populis dan egaliter. Sebagai pesantren yang mengombinasikan sistem salaf dan modern akan jauh lebih mahal karena biaya banyaknya program membutuhkan semakin banyak tenaga pengajar dan biaya. Namun kenyataannya tidaklah demikian. Dengan kegiatan yang padat dan kualitas belajar mengajar relatif memadai, serta pengembangan infrastruktur yang terus dibangun, Assalafiyyah tetap berpijak pada tujuan awal dari berdirinya pesantren ini: bahwa Pondok Pesantren Assalafiyyah harus bisa diakses oleh semua kalangan tanpa memandang kemampuan dan latar belakang ekonomi. Assalafiyyah pun memberikan beasiswa santri yatim-piatu dan fakir miskin. Mereka bahkan dilatih skillnya untuk berwirausaha dengan membantu sebagai penjaga kantin, koperasi warung klontong, foto copy, dll.

Yang tak kalah pentingnya lagi adalah mudahnya untuk diterima di Assalafiyyah. Dalam hal penerimaan santri, Assalafiyyah menganut sistem salaf di mana semua santri yang ingin mondok akan langsung diterima tanpa diseleksi lebih dahulu. Kami berpandangan bahwa setiap calon santri yang ingin belajar di pesantren pasti memiliki niat baik untuk belajar agama, belajar akhlak dan menjalankan syariah, oleh karena itu kurang elok kalau niat yang baik itu tidak diakomodir. Dengan demikian, seluruh calon santri akan langsung diterima di Assalafiyyah asalkan bersedia untuk mengikuti aturan dan tata tertib dan selama asrama mampu menampung.

 

  1. GO GREEN PESANTREN

Pesantren Assalafiyyah 2 Terpadu mengembangkan konsep go green untuk madrasah Tsanawiyyah dan Aliyah berbasis alam. Dengan bangunan etnik dan natural diharapkan mampu merangsang kesadaran santri agar lebih peduli pada kelestarian lingkungan hidup.