“Penyiaran KPID Yogyakarta” of SMK X MM Assalafiyyah


KPI/KPID itu sendiri apa si? Para santri bertanya-tanya apa itu KPI apa gunanya KPI menyiarkan di lingkungan pondok? Nah… baiklah kami disini akan membahas sedikit apa itu KPI dan gunanya. KPI itu sendiri adalah lembaga negara independen yang dibentuk melalui UU No. 32 tahun 2002 yaitu tentang penyiaran dengan tujuan mengatur segala hal mengenai penyiaran yang ada di Indonesia baik melalui Televisi maupun Radio.

Tepat pada hari Selasa, 08 October 2019 pondok pesantren Assalafiyyah dapat kunjungan dari KPID DIY dalam acara Sosialisasi dan Optimalisasi Perda No.13 tahun 2016 Tentang Penyelenggaraan Penyiaran di Lembaga Pendidikan khususnya SMK Assalafiyyah Sleman (Membangun Keistimewaan dalam Bingkai Keberagaman Menjaga NKRI). Persoalan kebangsaan akhir-akhir ini seperti hoax, isu ekonomi, agama, disintegrasi bangsa Indonesia menguatkan citi-cita para pahlawan. Hal inilah yang melatarbelakangi KPID DIY mengangkat tema tersebut dalam Literasi Media di SMK Assalafiyyah.

Literasi Media tersebut dipimpin oleh moderator dari komisioner KPID DIY yaitu Bu. Dewi Nurhasanah, S.Th.I.M.A. dan materi disampaikan oleh tiga narasaumber, yang terdiri dari Dr. Yuni Satia Rahayu (anggota DPRD DIY),  gus Irwan Masduqi, Lc.,M.Hum (Pengasuh Ponpes Assalafiyyah) dan Mohammad Imam Santosa (Komisioner Bidang Pengelolaan Strukur dan Sistem Siaran KPID DIY). Materi pertama disampaikan oleh Mohammad Imam, beliau memaparkan terkait pengenalan KPID DIY dan Lembaga Penyiaran yang ada di Yogyakarta.

Sosial Media dan Internet merupakan media yang sering diakses oleh masyarakat, hal ini juga membuat informasi dan pesan mudah untuk disampaikan. Namun banyak juga yang yang menyalahgunakan media internet untuk menyebakan hoax, seperti isu sara. Bu Yuni Satia Rahayu sebagai pemateri kedua menyampaikan “Kita harus hati-hati dan bijak dalam menggunakan media sosial, apabila ada tayangan di TV yang menyampaikan informasi maka harus dikroscek terlebih dahulu, jangan ikut serta menyebarkan media sosial”.

Gus Irwan Masduqi juga menyampaikan agar Siswa-siswi SMK Assalafiyah dalam mengakses dan menerima informasi dari media sosial tetap mencari second opinion agar tidak tersesat dalam hoax, hal ini digunakan sebagai informasi pembanding untuk mengetahui apakah pesan tersebut benar atau tidak. Setelah pemaparan materi, acara selanjutnya adalah diskusi bersama. Siswa-siswi sangat antusias dalam sesi diskusi, hal ini dilihat dari minat siswa dalam bertanya terkait materi yang telah disampaikan.

Harapannya melalui Literasi Media ini Siswa-siswi Ponpes Assalafiyyah dapat lebih memahami bagaimana dalam menerima informasi, baik melalui media internet maupun media televisi. Semua informasi yang diterima tidak boleh diterima mentah-mentah, harus diseleksi dan difilter. Melalui cara tersebut maka akan meminimalisir adanya penyebaran hoax yang dapat mengancam Keistimewaan dan Keberagaman NKRI.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *